…part sebelumnya,

1.Bandwagon Effect

Bandwagon effect adalah kondisi di mana orang-orang cenderung mengikuti perilaku, gaya, bahkan cara berbicara orang lain hanya karena semua orang melakukan itu. Psikolog menyatakan bahwa efek bandwagon ini merupakan bagian dari bias kognitif yang dialami banyak orang secara bersamaan. Bias kognitif ini merupakan pemikiran dipengaruhi karena sesuatu tersebut dilakukan oleh orang banyak. Hal tersebut dapat terjadi karena seringkali kita dipengaruhi oleh tekanan dan norma yang dimiliki oleh segerombolan orang-orang itu. Ketika terlihat bahwa orang banyak melakukan hal itu bersamaan, menjadi sangat sulit bagi kita untuk tidak ikut-ikutan melakukannya.

Tekanan ini bisa mempengaruhi banyak aspek dalam hidup manusia, khususnya dalam perilaku. Efek bandwagon ini juga sering terjadi karena kita cenderung ingin menjadi sama seperti banyak orang. Ingin diakui dan takut dikucilkan menjadi menjadi poin-poin penyebab efek bandwagon ini. Orang-orang tentu tidak ingin menjadi aneh sendiri atau beda sendiri dalam sebuah kelompok sosial. Keinginan untuk memiliki dan dimiliki dalam sebuah hubungan sosial kemudian memaksa kita untuk menerima norma dan tindakan yang juga dilakukan oleh banyak orang.

Pada masa pemilu lalu, tentu tak sedikit dari kita yang menemukan di suatu daerah atau tempat dengan basis masa cukup besar mendukung satu paslon/partai tertentu. Menjadi pertanyaan adalah, apakah semua orang dalam satu daerah tersebut benar-benar secara sadar dan memiliki alasan sendiri untuk mendukung paslon tersebut atau sekedar mengikuti kelompok yang sudah ada? Di sisi lain, secara pribadi kita bisa mengajukan pertanyaan kepada diri kita pribadi, apakah dukungan yang kita berikan terhadap pemimpin pilihan kita atau hanya karena pengaruh dan ajakan orang lain?

Bandwagon effect sejatinya bukanlah sesuatu yang berbahaya, karena secara tidak sadar ada dalam setiap diri kita manusia. Namun, hal tersebut bisa menjadi berbahaya kalau akhirnya kita tidak lagi mempertimbangkan logika dan kebenaran sehingga hidup kita hanya ikut-ikutan semata. Misalnya kita dipengaruhi untuk melakukan sesuatu yang tidak benar. Tanpa prinsip, kita pasti terikut arus zaman. Beradaptasi dengan zaman memang penting, tapi untuk terikut tanpa prinsip yang tepat sangatlah tidak disarankan.

2.Framing Effect

Framing merupakan pola berkomunikasi di mana seseorang menggambarkan sesuatu dalam bingkai (frame) yang dibentuk sendiri. Hal ini mungkin merupakan praktik yang paling sering digunakan dalam dunia politik. Framing adalah sebuah teori efek media yang berkaitan dengan bagaimana sebuah pesan disajikan dibandingkan dengan apa yang disajikan oleh pesan tersebut. Selain itu, teori framing berbicara tentang bagaimana media mengalihkan perhatian khalayak dari kepentingan sebuah isu ke dalam apa yang ingin diproyeksikan dan digunakan untuk mengetahui efek media.

Teori framing dibangun berdasarkan asumsi bagaimana sebuah isu yang dicirikan dalam pelaporan berita dapat memiliki pengaruh terhadap bagaimana isu tersebut dipahami oleh khalayak.  Dengan kata lain, media mengarahkan perhatian publik kepada tema tertentu pilihan jurnalis yang mengakibatkan khalayak membuat keputusan apa yang dipikirkan. Dengan kata lain, media mengarahkan perhatian publik kepada tema tertentu pilihan jurnalis yang mengakibatkan khalayak membuat keputusan apa yang dipikirkan. Sebagai sebuah proses, framing terletak pada empat unsur komunikasi atau komponen-komponen komunikasi atau elemen-elemen komunikasi yaitu pengirim, penerima, pesan, dan budaya.

Dalam praktiknya pengguna teori ini tentunya sarat akan kepentingan. Bagi Pemerintah, suatu isu akan dibentuk dengan menggunakan narasi-narasi yang membuat masyarakat mendukung berbagai kebijakan yang diambil. Di sisi lain, bagi pihak oposisi, suatu narasi akan dibangun untuk memberikan pesan dan kesan kepada masyarakat untuk melawan kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, berkaitan dengan isu hutang yang beredar pada masa kampanye lalu. Pemerintah membangun narasi bahwa hutang pemerintah masih aman dan hutang negara adalah hal yang lumrah dan diperlukan selama sifatnya produktif. Sementara bagi pihak yang kontra, pembangunan opini diarahkan bahwa hutang merupakan sesuatu yang salah. Narasi-narasi pendukung dibangun bahwa hutang hanya akan menyengsarakan rakyat.

3.Teori Penanaman (Cultivation Theory)

Bersambung….

1 Komentar

  1. Framing theory saja belum cukup! ia hrs diintegrasikan dengan teori lainnya misalnya Agenda setting. Social network, sentiment theory, face theory, ABC theory dll dll. Untuk situngnya berbagai teori MoT bisa dibahas. Untuk ilmu politik beragam teori juga ….salam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…