…Part Sebelumnya

3.Teori Penanaman (Cultivation Theory)

Teori ini berbicara mengenai pengaruh media komunikasi, khususnya televisi, dalam menanamkan sesuatu ke dalam jiwa penonton yang akan berimbas pada sikap dan perilaku orang tersebut. Teori ini dikenalkan pertama kali oleh George Gerbner dalam tulisannya “Living with television: the violence profile”. Gerbner melakukan penelitian untuk mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan dan dipersepsikan oleh penonton televisi. Menurut teori kutivasi, televisi menjadi media atau alat utama dimana ara penonton belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Dengan kata lain, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, masyarakat, nilai sosial, serta adat dan tradisinya. Sehingga, televisi dari waktu ke waktu, secara halus, ‘memupuk’ persepsi pemirsa tentang kehidupan realitas.

Dalam penelitiannya, Gerbner mengemukakan bahwa tayangan televisi yang dipenuhi dengan dunia kekerasan dipercaya menimbulkan perubahan perilaku, ketakutan, hingga kejahatan. Sebagai contoh, misalnya berita tentang penculikan dan mutilasi organ anak yang terus-menerus dilihat oleh seorang ibu bisa membuat ibu tersebut menjadi overprotektif terhadap anak, hingga tidak memperbolehkan anaknya bermain keluar karena takut jika anaknya diculik. Intensnya pemberitaan kriminal juga dapat menimbukan perasaan bahwa kita bisa saja menjadi korban kerjahatan dan bahwa tidak ada lagi orang yang dapat dipercayai di dunia ini.

Dalam politik, implementasi teori ini banyak digunakan untuk menanamkan kepercayaan maupun ketidakpercayaan kepada masyarakat terhadap suatu tokoh. Sebagai contoh, dengan memunculkan tayangan pasangan calon presiden yang dikerumuni banyak pendukungnya akan menanamkan pikiran bahwa capres tersebut memiliki dukungan yang begitu besar. Selain itu, beredarnya banyak video yang berkaitan dengan komunis untuk membuat masyarakat percaya bahwa komunis itu masih ada sehingga menyebarkan rasa takut dan rasa curiga.

Mungkin, tujuan dari seseorang menanamkan ide melalui media televisi adalah semata-mata untuk mencari dukungan sehingga memenangkan sebuah kontestasi politik. Namun, perlu diwaspadai adanya dampak dan efek lain dari hal tersebut. Hilangnya rasa percaya, menurunya toleransi, pesimisme, rasa permusuhan, hingga perseturuan adalah hal yang kita alami pada pemilu lalu. Jika pada masa lalu, media yang diteliti adalah televisi, maka dengan munculnya media sosial, sebaran informasi dan dampak yang ditimbulkan akan menjadi lebih cepat dan besar.

4. Kampanye Negatif

Kemarin, tentu kita banyak melihat iklan-iklan maupun informasi yang berbau negative campaign, hingga black campaign yang mengandung unsur hoax untu menyudutkan paslon tertentu. Meskipun kita tidak menyukainya, tipe kampanye seperti itu akan banyak digunakan karena terbukti berhasil. Ranah psikologi menggelongkan negative campaign sebagai “bias negatif.” Hal mengacu pada kecenderungan seseorang untuk secara selektif mengingat informasi negatif dan membiarkan emosi negatif tersebut mendominasi pengambilan keputusan.

Seorang profesor ilmu politik dan juga ahli psikologi politik di Stanford University bernama Jon Krosnick, menyebut bahwa “jika Anda tidak menyukai satu dari dua kandidat, maka Anda akan sangat termotivasi untuk berpartisipasi nyoblos.” Hal ini dimanfaatkan oleh paslon, menggunakan framing yang telah kita bahas di poin awal, untuk meletakkan kompetitor di posisi yang akan dibenci oleh sebagian pemilih. Hal ini sangat lazim dan praktiknya sangat efektif.

Black campaign adalah bagian dari strategi pemenangan dan masih dianggap penting dalam perpolitikan di negeri ini. Masyarakat kita adalah masyarakat yang mudah reaktif secara emosional yang oleh karenanya, reaksi emosional ini cocok disulut dengan stimulus yang berbau emosional juga dimana para pelaku black campaign melihat itu sebagai peluang untuk direspon. Secara psikologis, respon manusia dapat diarahkan berdasarkan stimulusnya. Arah inilah yang coba dikontrol oleh pelaku black campaign melalui stimulus tertentu untuk dipakai menyerang atau mengalahkan rival politiknya secara halus.

5. Spiral Of Silence Theory

Bersambung… Part 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…