…Part Sebelumnya

5. Spiral of Silence Theory

Teori Spiral Keheningan ( Spiral of Silence Theory) merupakan teori yang dikembangkan oleh Elisabeth Noelle Neumann (1973, 1980), seorang sosiolog, pakar politik, dan jurnalis Nazi Jerman yang membenci Yahudi dan mendukung Hitler. Teori ini menjelaskan bahwa bahwa selain kekuatan media yang dapat menciptakan opini publik, terdapat opini yang tidak sejalan dan berkembang secara tersembunyi. Opini tersebut bersifat laten, berkembang dalam lingkar keheningan, dan berada di tingkat bawah yang tak terlihat dari permukaan.

Teori keheningan merupakan bagian dari teori komunikasi massa di mana seseorang memiliki opini dari berbagai isu namun terdapat keraguan dan ketakutan untuk memberikan opininya karena merasa terisolasi, sehingga opininya bersifat tertutup. Dengan adanya isolasi akan opini setiap individu, maka orang tersebut akan mencari dukungan yang memihak pada opininya tersebut. Hal ini menyebabkan orang tersebut menjadi mayoritas yang awalnya terkucilkan akan opininya. Kebanyakan orang mencari dukungan akan opininya tersebut melalui media massa atau mendekati orang yang sekiranya berpengaruh dalam kemasyarakatannya seperti seorang tokoh masyarakat atau public figure. Akan tetapi, jika opini belum mendapatkan dukungan, maka orang tersebut akan berkomunikasi dengan menggunakan Spiral keheningan yang mana ia menyembunyikan opininya dan mau tidak mau menerima opini yang mayoritas.

Pada hakikatnya spiral keheningan ini muncul karena adanya pengucilan terhadap kaum minoritas. Lebih lanjut, Neumann mengatakan “mengikuti arus memang relatif menyenangkan, tapi itupun bila mungkin, karena anda tidak bersedia menerima apa yang tampak sebagai pendapat yang diterima umum, paling tidak anda dapat berdiam diri, supaya orang lain dapat menerima anda.” Jika opini mayoritas itu tidak berjalan sesuai dengan masyarakat, maka masyarakat lebih memilih diam dan berada di kalangan minoritas. Padahal, semakin lama masyarakat diam, maka semakin banyak sudut pandang yang terpendam, dan mereka akan semakin lama diam juga.

Pada umumnya, kebanyakan orang akan memilih diam ketika mereka merasa berada di lingkungan minoritas dan merasa pendapat mereka telah dibatasi. Karena mereka merasa enggang untuk menyampaikan pendapat mereka dan takut dikucilkan. Sedangkan orang yang memiliki sudut pandang mayoritas akan lebih banyak bersuara dan berkoar. Sebagai contoh, ada si A yang berpendapat bahwa bumi itu datar dan si B berpendapat bahwa bumi itu bulat. Namun selama ini, kebanyakan orang menganggap bahwa bumi itu bulat, sehingga si B lebih mendominasi untuk bersuara dan si A lebih memilih untuk diam karena takut dikucilkan oleh orang lain.

Apakah teori ini terdengar familiar? tentu tidak bagi sebagian orang. Tapi fenomena yang dijelaskan dalam teori ini mungkin begitu berkesan dan masih membekas di ingatan kita dalam memberikan gambaran mengenai nuansa Pemilu yang terjadi di Indonesia, ya setidaknya dua tahun terakhir ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…