Penguatan Pertahanan Diperlukan di Berbagai Lini

Sebagai negara maritim, Indonesia merupakan negara yang sangat penting bagi negara-negara industri maju. Keamanan maritim Indonesia sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi perubahan lingkungan strategis, karena akan timbul berbagai permasalahan. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem pertahanan yang terintegrasi antarmatra pertahanan negara. Dalam konteks tersebut organisasi pertahanan suatu Negara harus memiliki backbone yang kuat agar bisa melakukan penetrasi dan komunikasi prima di sepanjang daerah perbatasan negara. Persoalan pertahanan harus ditangani dengan solusi terkini yang mengarah kepada optimalisasi teknologi menuju integrated digitalized battlefield.

Kemampuan Pertahanan dan Masalah Perbatasan

Kondisi alutsista Indonesia kurang memadai untuk menjaga kedaulatan NKRI, apalagi kondisi perbatasan NKRI sangat luas dengan medan yang berat. Hal itu tentu membutuhkan sistem, alutsista dan personel yang andal dan jumlah memadai. Ancaman dan gangguan dari luar negeri akan masuk melewati titik-titik lemah perbatasan. Sayangnya, kemampuan pertahanan dan kondisi personel TNI di garis perbatasan masih belum sesuai dengan kebutuhan. Selain jumlahnya masih kurang, ada disparitas atau kesenjangan kesejahteraan dan kecanggihan alutsista bila dibandingkan dengan kondisi personel militer Negara tetangga.

Dalam rangka melaksanakan strategi pertahanan negara, kemampuan pertahanan negara dikembangkan untuk mencapai standar penangkalan, yakni kemampuan pertahanan Negara yang mampu menangkal dan mengatasi ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa. Selama lima tahun terakhir kondisi di perbatasan negara mencuatkan berbagai kasus sengketa dengan negara lain, kejahatan ekonomi dan kemanusiaan serta ekses negative lainnya akibat masih lemahnya pengelolaan perbatasan. Kondisinya makin krusial terkait dengan potensi konflik di Laut Tiongkok Selatan yang melibatkan beberapa negara besar. Konflik itu meskipun tidak melibatkan Indonesia secara langsung tetapi negeri ini bisa terkena dampaknya.

Upaya untuk mengembangkan sistem pertahanan negara harus memperhatikan faktor geostrategic negara, baik ke dalam maupun ke luar. Faktor geostrategis ke dalam mengarahkan pembuatan kebijakan pertahanan untuk menciptakan sistem pertahanan yang tangguh yang didasarkan atas konsep unified approach yang mencakup seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Sedangkan faktor geostrategic ke luar memerlukan kebijakan pertahanan untuk mengembangkan kemampuan penangkal yang tangguh melalui pengembangan teknologi pengintaian dan system peringatan dini.

Komitmen Pemerintah Dalam Memperkuat Pertahanan Negara

Pertahanan Indonesia harus terus diperkuat salah satunya di sektor kemaritiman. Untuk itu, Indonesia perlu terus memperkuat pertahanan dan keamanannya di wilayah kelautan serta perbatasan. Karena itu, pemerintah berkomitmen terus meningkatkan anggaran untuk melengkapi alutsista dalam memperkuat pertahanan demi kedaulatan Indonesia.

Mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menegaskan, pemerintahan Jokowi terus melakukan penguatan di sektor pertahanan. Ia merinci, mulai dari peningkatan anggaran untuk Alutsista, memperkuat pos perbatasan di Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan di perbatasan Kalimantan dilengkapi chips agar dapat dipantau bila ada pergeseran.

Alutsista TNI yang terbaru, misalnya kata Ryamizard adalah Tank Leopard, Rudal Arhanud, Pesawat F-16, Pesawat CN 235 MPA, Kapal Fregat RI RE Martadinata, hingga Kapal latih KRI Bima Suci. Tak kalah pentingnya, pemerintahan Jokowi juga mendorong peningkatkan kesejahteraan dan profesional prajurit TNI. Upaya tersebut dilakukan Presiden Jokowi sebagai bentuk komitmennya terhadap sektor pertahanan dan keamanan. 

Pencapaian Kinerja dan Program Pemerintah di Bidang Pertahanan.

Hingga akhir tahun 2018 atau empat tahun Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), Kementerian Pertahanan (Kemhan) mencatat sejumlah pencapaian kinerja dan program di bidang pertahanan. Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu mengatakan, pencapaian kinerja dan program tersebut antara lain membangun TNI yang profesional. Rencana Strategis (Renstra) 2014-2018, utamanya untuk menunjang pemenuhan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) sudah mencapai 61,8%. TNI juga telah dilengkapi dengan berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) terbaru untuk semua matra. Dalam peningkatan kesejahteraan prajurit, telah dibangun 241.441 unit rumah negara untuk prajurit.

“Dalam pengadaan alutsista ini, kita juga mengutamakan alutsista yang sesuai dengan potensi ancaman. Jadi bukan hanya alutsista untuk pengadaan perang, juga untuk membantu penanggulangan bencana. Supaya bisa bergerak cepat dalam membantu menanggulangi bencana,” ujar Ryamizard. Selain alutsista yang bisa tanggap membantu menanggulangi bencana, pada tahun depan Kemhan akan mengadakan satu unit kapal selam hasil lanjutan kerja sama dengan Korea Selatan, pesawat tempur dan rudal taktis untuk semua matra TNI.

Terkait program pengamanan perbatasan, Kemhan telah membangun Jalan Inspeksi dan Patroli Perbatasan (JIPP) dan Jalan Administrasi (JA) di Kalimantan sepanjang 999,5 kilometer. Untuk sarana dan prasarana perbatasan darat sudah dilengkapi dengan pospamtas, border sign post (BSP) dan pilar perbatasan. Program berikutnya, ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Kemhan terus melakukan langkah dan inisiatif melalui penguatan kerja sama enam negara ASEAN yaitu kerjasama Our Eyes. Sampai tahun 2018 ini, Indonesia telah mengirim 3.774 orang Pasukan Perdamaian Dunia PBB.

Selanjutnya, program membangun industri pertahanan dalam negeri yang kuat, mandiri dan berdaya saing. Indonesia berhasil membangun produk alutsista dalam negeri berkualitas, andal dan prima. Beberapa alutsista baru buatan dalam negeri telah memperkuat jajaran TNI AD, TNI AL dan TNI AU. Data dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan menunjukkan Kemhan menempati peringkat ke-52 dari 86 kementerian/lembaga dalam peringkat realisasi belanja kementerian/lembaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…