Hewan merupakan salah satu makhluk hidup yang keberadaannya dekat dengan manusia sejak dahulu kala

Hewan merupakan salah satu makhluk hidup yang keberadaannya dekat dengan manusia sejak dahulu kala. Mereka sering kali digunakan untuk membantu pekerjaan manusia maupun untuk dijadikan peliharaan. Bahkan hingga era kemajuan teknologi saat ini, eksistensi hewan tetap tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Maka dari itu, diperlukan adanya pengaturan hukum yang adil di Indonesia mengenai kesejahteraan hewan sebagai perwujudan kemajuan peradaban bangsa.

Tak hanya manusia, hewan juga sering kali mengalami kekerasan dan penyalahgunaan oleh oknum yang tidak berhati nurani. Hewan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan dan hak untuk diperlakukan secara layak. Di negara maju, pesan mengenai perlindungan terhadap hewan telah banyak menggema. Banyak negara sudah fokus membahas dan membuat peraturan mengenai kesejahteraan hewan serta perlindungan hak asasi hewan. Sedikit bertolak belakang, kondisi di Indonesia masih belum memandang serius tentang hal ini.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengatakan, salah satu ciri dari kemajuan peradaban bangsa adalah sikap dalam memperlakukan hewan dengan baik. “Jadi intinya kemajuan peradaban bangsa kita, salah satu cirinya adalah ditentukan sikap kita kepada hewan. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan hewan secara seimbang, kita harus memperlakukan hewan dengan baik, sehingga hewan juga merasa akrab dengan manusia,” kata Jimly, dikutip dari Antara, Minggu (2/12/2018).

Kekerasan Terhadap Hewan dan Regulasi Hukumnya

Kasus yang banyak viral di berbagai media sosial Indonesia menyentil bagaimana hewan diperlakukan secara kasar dan tanpa belas kasih. Seperti yang ditilik dari bbc.com di Cibinong, Bogor terdapat seekor kucing liar yang tengah hamil ditemukan dengan dua kuping berdarah karena dipotong, luka bakar disiram air panas di bagian perut dan empat puting susu yang dipotong. Selanjutnya ada kisan anjing Valent yang oleh pemiliknya ditelantarkan selama 8 jam di parkiran mal Gandaria City, Jakarta Selatan. Valent “ditinggalkan” tanpa makan atau minum dengan kondisi sirkulasi udara seadaanya melalui kaca mobil yang sedikit dibuka. Sekretaris Garda Satwa Indonesia Anisa Ratna Kurnia mengatakan, pihaknya telah berulang kali mendampingi pelaporan kasus penganiayaan terhadap hewan. Namun, dari banyaknya laporan yang telah dibuat, tak ada satu pun yang membuat pelaku penganiayaan hewan dipidanakan.

Hewan merupakan salah satu makhluk hidup yang keberadaannya dekat dengan manusia sejak dahulu kala
Hewan merupakan salah satu makhluk hidup yang keberadaannya dekat dengan manusia sejak dahulu kala

Indonesia sebenernya telah memiliki Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 yang merupakan perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 soal perlindungan hewan. Namun UU tersebut masih sebatas mengatur soal peternakan dan kesehatan hewan, dan belum mencakup kesejahteraan hewan secara keseluruhan. Peraturan tersebut mewajibkan setiap individu untuk memelihara, mengamankan, merawat, dan mengayomi hewan yang dilindungi negara atau tidak secara baik. Selanjutnya ada Pasal 302 Pasal 302 KUHP menjelaskan konsekuensi atas segala bentuk kekerasan terhadap hewan (melukai, merugikan kesehatan, hingga tidak memberi makan), dengan ancaman pidana paling lama tiga bulan (denda Rp 4.500). Sementara, jika hewan yang menjadi korban sampai mengalami sakit lebih dari seminggu, cacat, luka berat lain, atau mati maka pelaku dipidana tambahan paling lama sembilan bulan (Rp 300).

Mewujudkan Masyarakat yang Ber-Perikebinatangan

Sayangnya, peraturan pasal ini dinilai masih ringan. Nilai denda yang sangat kecil karena masih mengacu pada kurs zaman Hindia Belanda. Maka, sudah seharusnya hukuman denda ini dikonversi dalam nilai tukar rupiah saat ini, yaitu berkisar Rp 5 – 10 juta. Selain itu, aparat penegak hukum juga dinilai lemah dalam menindak pelaku kekerasan terhadap hewan. Para pelaku masih bebas berkeliaran walaupun sudah banyak mendapat kecaman dari masyarakat. Hal ini membuat penegakkan regulasi perlindungan hewan di Indonesia terhambat bahkan hamper tidak berjalan.

Tingkat kesadaran masyarakat untuk memperlakukan hewan secara baik masih rendah. Mereka beranggapan bahwa hewan tidak memiliki rasa karena mereka tidak mempunyai kekuatan dan suara untuk menolak. Maka dari itu, diperlukan edukasi yang mendalam dan berkelanjutan kepada masyarakat yang menekankan pentingnya isu kesejahteraan hewan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai memperbaiki sikap kita kepada hewan dan tidak memusuhinya.

Selain regulasi hukum yang kuat dan jelas, dibutuhkan pula pemberian edukasi yang tinggi kepada masyarakat mengenai kesejahteraan hewan. Jika melihat tindakan kekerasan terhadap hewan, masyarakat hendaknya segera melapor ke pihak yang berwajib. Perlindungan ini dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar untuk menghentikan penyiksaan. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, “The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated” (kebesaran beserta kemajuan moral suatu bangsa ditentukan dari bagaimana hewan-hewan yang hidup di sana diperlakukan). Hewan juga mahluk Tuhan sehingga memperlakukan binatang secara baik berarti menghormati Tuhan yang menciptakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…