Politik Destruktif Ancaman Bagi Moral Bangsa

Hujan dengan intensitas tinggi hampir terjadi di seluruh pulau di Indonesia beberapa hari kemarin. Dampak dari intensitas hujan yang tinggi adalah meluapnya beberapa sungai diwiliayah pulau jawa. Mulai dari Tulungaggung, Madiun, Bojonegoro, Klaten, Yogyakarta hingga Bandung. Akan tetapi titik yang paling banyak berada di wilayah Jawa Timur dan Jawa barat.

Disebutkan di Kompas.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) menyebutkan jika fenomena alam bernama Madden Julian Oscillation ( MJO) yang terjadi di Samudera Hindia menjadi penyebab terendamnya 15 kabupaten di Jawa Timur hingga Jumat (8/3/2019). Berdasarkan laporan dari Pusdalops BPBD Provinsi Jawa Timur, sebanyak 15 kabupaten tersebut antara lain Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan dan Blitar. Dan daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun mencapai  35 desa di 7 Kecamatan.

Banjir di Madiun yang merendam Tol Ngawi-Kertosono, tepatnya di Simpang Susun Madiun, dikritik oleh tim pemenangan salah satu capres. Peristiwa itu dianggap memalukan. Hal ini dibandingkan dengan kondisi jalan tol di Indonesia dan Malaysia yang dianggap lebih maju, padahal dulu belajar dari Indonesia.

Tidak Membawa Bencana dalam Perang Politik

Melihat kondisi tersebut, sangat ironis jika kita sebagai warga Indonesia justru tidak terfokus dalam penanganan bencana ini. Terlihat dari beberapa pemberitaan yang justru lebih berfokus kepada permasalahan infrastruktur. Tentu saja hal ini merupakan sikap moral yang memprihatinkan. Seharusnya, pertolongan kepada pada korban dan penanganan bencana menjadi prioritas pertama yang ada dalam benak kita. Menjadi sebuah pertanyaan, apakah hal ini akibat dampak dari situasi politik yang semakin keras. “Pemilu memang keras. Tapi tak sepatutnya menimbulkan perpecahan dan disintegrasi. Diperlukan tanggung jawab dan jiwa besar kita semua. Utamanya para elite dan pemimpin bangsa,” kata SBY dikutip dari Kompas.com.

Sikap tersebut jauh dari sifat gotong royong yang sebenarnya melekat dengan sifat umum bangsa Indonesia. Apa hanya karena kepentingan politik sesaat ini sehingga tega untuk menggiring opini bahwa banjir yang terjadi khusunya yang merendam Tol Kertosono? Kita merupakan bangsa yang toleran, bangsa yang mengedepankan gotong royong dan empati. Berfokus dalam penanganan bencana lebih baik baru setelah itu berbicara mengenai masalah yang lain.

Perlu adanya naras-narasi yang membangun dalam berpolitik. Bukan hanya memaknai politik kontestasi pilpres sebagai ajang perang untuk menjatuhkan dan menegasikan (meniadakan) kubu lawan demi kepentingan pragmatis merebut kekuasaan. Sehingganya nanti kedepannya tidak ada penggunaan bencana sebagai ajang narasi destruktif dalam persaingan politik dan berfokus dalam penanganan korban bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…