Politik Menjatuhkan Ala Amien-Rais

Pernyataan politikus senior PAN Amien Rais yang memilih menggunakan people power ketimbang mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) jika ada kecurangan di Pilpres 2019 menjadi polemik. MK selaku lembaga yang disinggung Amien terang-terangan mengecam. Sedangkan Bawaslu RI yang lebih memilih mengingatkan. Juru bicara MK Fajar Laksono menyayangkan ancaman pengerahan massa itu diucapkan Amien. Dia heran mengapa Amien bertolak belakang ketika menjabat Ketua MPR dulu yang turut mengesahkan pembentukan MK. Dia juga menyesalkan ucapan Amien yang mengatakan tak gunanya membawa perkara kecurangan ke MK. Fajar menilai ucapan itu sama saja dengan penghinaan terhadap lembaga peradilan alias contemp of court.

Amien Rais terkenal kritis sejak era Soeharto. Memasuki tahun 1990an, Amien Rais bersikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan orde baru yang saat itu dikuasai oleh Soeharto. Akibatnya ia lengser saat menjabat sebagai ketua dewan pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) akibat campur tangan pemerintah orde baru. Di tahun 1995, Amien Rais terpilih sebagai Ketua Pimpinan Organisasi Muhammadiyah. Ia bahkan semakin gencar dalam melakukan kritik terhadap pemerintahan Soeharto terutama dalam hal isu praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang banyak terjadi saat Soeharto berkuasa.

Era keemasan Amien Rais adalah pada 1998. Di era ini, Amien Rais disebut sebagai salah satu tokoh kala itu yang berhasil membuat Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden yang telah ia pegang selama 32 tahun. Setelah era Reformasi dimulai, Amien Rais kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 1998 dan menjabat sebagai ketua Umum PAN. PAN kemudian mengikuti pemilu namun tidak berhasil membawa anggotanya untuk duduk di Senayan. Amien Rais juga pernah menjadi ketua MPR RI dari tahun 1999 hingga 2004.

Pada masa Era Reformasi, Amien Rais memiliki pengaruh kuat sebagai ketua MPR RI. Hal ini dapat dilihat dari langkahnya berhasil mengusung KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1999 mengalahkan Megawati Soekarnoputri. Padahal kala itu Partai PDI Perjuangan yang dipimpin oleh Megawati merupakan partai pemenang Pemilu pada tahun 1999. Dua tahun kemudian, Amien Rais yang masih menjabat sebagai ketua MPR RI melakukan pemakzulan terhadap Gusdur sehingga ia lengser dari Presiden kala itu. Di era ini, Amien Rais dikenal dengan panggilan King Maker setelah mengusulkan Megawati Soekarnoputri, wakil presiden Indonesia menjadi sebagai Presiden menggantikan Gusdur dan usulan ini pun berhasil.

Amien Rais Dikenal Sangat Kritis

Melihat sejarahnya yang sering kritis menentang kebijakan pemerintah, sudah hal yang biasa jika Amien Rais melakukan hal serupa. Termasuk ketika dia yang menyebut akan menggunakan kekuatan massa jika ada kecurangan pemilu. Seperti yang diliput di merdeka.com, Presiden Jokowi malah mempersilakan Amien melaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) apabila menemukan dugaan kecurangan dalam pemilu. Jika kecurangan itu terkait unsur pidana, Jokowi menyarankan Amien Rais melapor ke kepolisian. Tak hanya Presiden, beberapa tokoh penting partai menyayangkan gerakan Amien Rais ini. Dilansir dari tirto.id, Juru Bicara TKN Lena Maryana Mukti merespons ucapan Amien Rais yang menyebut tak perlu percaya kepada Mahkamah Konstitusi dan akan menggunakan people power jika menemukan kecurangan. Menurut Lena, Amien merupakan tokoh reformasi yang ikut membangun politik Indonesia serta membuat Indonesia bisa menjadi negara yang demokratis seperti saat ini.

Di sisi lain, kontroversi yang sering dilakukan Amien Rais ternyata tidak hanya kali ini dilakukan. Beberapa orang bahkan menganggap yang dilakukan Amien Rais di 1998 bukanlah inisiatif sendiri, melainkan hanya sebagai aktor. Seperti yang diungkapkan Desmond J Mahesa, Ketua DPP Partai Gerindra di teropongsenayan.com. Amien Rais hanya dimanfaatkan mahasiswa untuk berbicara di panggung DPR. Dia itu bukan inisiatornya, hanya sebagai artis. Menurut Desmond, Amien Rais saat itu bicaranya vokal saja dan dia bukan siapa-siapa. Sri Bintang, salah satu orator terkenal di 1998, juga menuding Amien Rais sebagai pengkhianat dan bahkan Desmond menyebutnya sebagai pecundang.

Pernyataan Amien tentunya dapat dinilai sebagai upaya memanas-manasi rakyat yang dapat menimbulkan perpecahan dan ketidakpercayaan terhadap Lembaga pemerintah. Hal ini tentu sangat disayangkan, dengan gelar mantan seorang Guru Besar ilmu Politik, seharusnya jangan mengajarkan rakyat untuk melakukan langkah-langkah inkonstitusional. Kita pun tahu, bahwa sudah seharusnya dalam mekanisme politik kita bilamana ada pelanggaran hasil pemilu seharusnya dilaporkan ke Mahkamah Konstitusi. Tindakan Amien Rais yang berencana langsung menggunakan people power jika terjadi kecurangan ini seakan tidak menghormati aturan sistem kenegaraan yang sudah berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…