Mabes Polri dan Mabes TNI melalui Kabid Humas Polri, Brigjen (Pol) Muhammad Iqbal bersama tim dari Polri mengungkap dan memaparkan siapa dalang kerusuhan 21-22 Mei lalu dalam konfrensi pers kepada publik pada Selasa (10/6) tepatnya pukul 14.12 WIB. Konfrensi pers yang semua direncanakan pada pukul 10.00 WIB diundur menjadi pukul 14.00 WIB. Dalam paparannya, M.Iqbal mengawali dengan mereview ulang peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21-22 Mei dengan membagi aksi unjuk rasa tersebut dalam dua segmen/klasifikasi. Peristiwa kerusuhan yang terjadi di depan Kantor Bawaslu dan Asrama Brimob di Petamburan.

Segmen pertama, unjuk rasa pada pukul 14.00 WIB-18.00 WIB massa sejumlah 3.000 orang menyampaikan pendapat didepan umum secara tertib dan damai sesuai dengan Undang-Undang tentang penyampaian pendapat didepan umum. Karena adanya momentum Bulan Ramadhan, Polri mengizinkan massa aksi tetap berada di lokasi berlanjut sampai buka puasa sampai sholat teraweh.Sekitar pukul 21.10 WIB Korlap kembali berkoordinasi dengan Metro Jakarta Pusat agar massa kembali, dan massa kembali dengan tertib. Kapolda Metro Jaya sempat memerintahkan apel konsolidasi untuk mempersiapkan, mengecek dan melakukan Analisa evaluasi.

Segmen kedua berbeda, tiba-tiba massa perusuh sekitar 500 massa disampaing Bawaslu melakukan penyerangan dan pengerusakan terhadap petugas. Bahkan petugas yang menghimbau diserang dengan benda-benda yang mematikan seperti Molotov. Pengakuan Polri, molotov jika terkena kepala dan airnya tumpah bisa terbakar dan mematikan. Petasan roket berbahaya dan mematikan. Batu yang besar sebesar konblok dan sudah dipersiapkan itu mematikan. Panah yang digunakan beracun, kelewang, pedang dan lainnya. Massa yang datang tersebut diangkap sudah disetting, didesain untuk menyerang dan memprovokasi petugas. Segmen kedua tersebut berlangsung sampai pagi harinya.

Massa Damai di Bawaslu Berbeda Dengan Massa Perusuh Yang Didesain

TNI dan Polri tidak dilengkapi dengan senjata tajam, hanya dengan berbekal gas airmata untuk berusaha menertibkan massa yang rusuh sampai pagi harinya. Sampai ke asrama polri di Petamburan dibakar, kendaraan dinas dirusak dan dibakar. M.Iqbal menyatakan Asrama Polri Petamburan ini tidak seperti Asrama Polri Tangsi yang agak terpencil. Asrama polri sangat terbuka untuk umum, sehingga keluarga polri yang menjadi juga terancam oleh serangan-serangan yang dilakukan dengan mengunakan batu-batu, parang dan bambu runcing. Dalam dua segmen ini, Kabid Humas Polri menegaskan pada peristiwa 21 Mei, massa perusuh datang setelah massa damai pulang. Namun tanggal 22 Mei, massa rusuh sudah ada didalam massa damai. Massa yang ada di Bawaslu berbeda dengan massa perusuh yang sudah didesain.

Tersangka Z Ditangkap di Soekarno Hatta

Pelaku dengan inisial Z mirip dengan saudara S yang ditangkap di Bandara Soekarno Hatta karena kedapatan menerima dan membawa senjata illegal tanpa dilengkapi dengan surat-surat yang sah. Berdasarkan pengakuan para saksi, senjata api tersebut adalah mirip dengan senjata yang dimiliki oleh S yang berasal dari GAM di Aceh yang kepemilikannya tanpa hak sejak 1 September 2011 yaitu sejak S pensiun dari anggota TNI. Senjata tersebut dititipkan kepada HR.

Tersangka HR menyimpan senjata api illegal tersebut, dan pada awal April 2019 sebelum pencoblosan Pemilu, S meminta senjata tersebut untuk dikirimkan ke Jakarta melalui telepon. HR meminta bantuan B untuk membuatkan surat keterangan palsu atas nama Kabinda Aceh yaitu S padahal S sudah tidak lagi menjadi Kabinda Aceh. Surat tersebut diserahkan kepada protokol bernama L, agar diterbitkan security item, sehingga melalui security item tersebut senjata api ilegal tersebut lolos melalui pesawat Garuda Indonesia. Surat SI dititipkan kepada salah satu saksi bernama SA yang akan melaksanakan Pendidikan di Jakarta dan senjata tersebut masuk kedalam bagasi pesawat.

Kemudian surat SI dan senpi tersebut diinformasi oleh B kepada Z yang menjadi protokol di Bandara Soekarno Hatta agar dapat mengambil Senpi kepada saudara SA. Saudara SA menyerahkan senjata tersebut kepada Z, dan saat itu juga oleh anggota Bais kedua orang tersebut diamankan dan diinterogasi. Setelah dikaji oleh Polri senjata api yang diamankan tersebut merupakan senjata api yang masih aktif dan dapat ditembakkan. Jenis senjata api tersebut adalah laras panjang menyerupai M4 Carbin Made in USA bernomor seri SER 15584. Juga 2 buah Magazine dan 1 buah peredam yang cocok dengan senjata api laras panjang tersebut.

Rencana Pembunuhan 5 Tokoh Nasional

Wadir Reskrimun  Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary juga mengungkapkan perencanaan pembunuhan kepada 5 tokoh nasional. Berawal dari penangkapan 6 tersangka yang berperan sebagai leader, pencari eksekutor, eksekutor, mencari senjata api dan menjual senjata, Polri menegaskan kelima tokoh nasional yang menjadi terget pembunuhan tersebut antara lain:

  1. Jenderal Purn.TNI Luhut Binsar Panjaitan
  2. Jenderal Purn. TNI Wiranto
  3. Jenderal Purn. Pol.Budi Gunawan
  4. Komjen Purn. Gories Mere
  5. Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politica

Setelah melakukan pengembangan penyidikan, tersangka HK merupakan leader dari eksekutor yang diamankan pada tanggal 21 Mei 2019. Dalam siaran berita dari MetroTV, tersangka HK alias Iwan dan AZ memberikan keterangan untuk bertemu Mayor Jendral (Purn) TNI Kivlan Zen alias KZ di Kelapa Gading dan menerima sejumlah uang sebesar 150 juta untuk membeli senjata , 2 pucuk laras pendek dan 2 laras Panjang oleh KZ.

Polri Mengungkap Dalang Kerusuhan 21-22 Mei, Bagaimana Kelanjutannya?

Selain HK, ada tersangka lain yaitu Irfansyah alias IR yang memberikan keterangan bertemu dengan KZ pada bulan April 2 hari setelah Pemilu di Mesjid Pondok Indah. Dalam pertemuan yang dilakukan di dalam mobil tersebut, KZ menunjukan alamat dan foto di dalam HP kepada IR untuk dicek, difoto dan di videokan oleh IR. Tersangka IR juga mengaku KZ menyerahkan uang sejumlah 5 juta rupiah sebagai uang makan dan operasionalnya. Dalam pengakuannya IR mengaku foto yang ditunjukkan oleh KZ adalah foto Yunarto yang merupakan Pimpinan Lembaga Quick Count.

Pengungkapan para dalang kerusuhan 21-22 Mei oleh Mabes Polri dan Mabes TNI ini merupakan hasil dari siaran langsung konferensi pers yang dilaksanakan oleh Kabid Humas Polri di salah satu stasiun TV. Pengkajian dan pemberitaan selanjutnya kan terus di update oleh Rakyat Rukun. Banyak perspektif yang muncul ditengah masyarakat tentang hal ini, namun hal yang paling bijak saat ini adalah untuk mempercayai pihak yang berwajib dan berwenang yaitu TNI dan Polri untuk menyelesaikan dan menangkap para tersangka kerusuhan yang meresahkan bangsa Indonesia. Diharapkan masyarakat dapat menilai secara positif agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…