Posisi Gubernur DKI Anies Baswedan dinilai semakin terancam di tengah pendukungnya sendiri. Hal ini menyusul terbitnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Pulau Reklamasi yang secara tidak langsung menggerus basis loyalisnya semasa Pilkada DKI 2017. Anies Baswedan mengakui telah memberikan IMB bagi bangunan yang sudah terlanjur dibangun di pulau reklamasi. Keputusan Anies tersebut diibaratkan seperti menelan ludah sendiri. Sebagaimana janji kampanyenya dulu, berulangkali Ia menyatakan atas keberpihakannya pada nelayan. Bila terpilih jadi Gubernur DKI siap menyetop Reklamasi Teluk Jakarta. Tak peduli niat itu sangat tidak masuk akal karena bakal bertentangan dengan Keppres No. 52 tahun 1995 tentang reklamasi Pantai Utara Jakarta.

Kebijakan Anies ini menjadi polemik karena janji politiknya menyatakan tidak akan menerbitkan IMB. Sebelumnya disebutkan ada sekitar 932 izin sudah dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, Anies menyebutkan jumlah sebenarnya mencapai lebih dari 1.000 IMB.

“Jumlahnya 1.000 lebih dari yang sudah terbangun,” kata Anies di Balai Kota, Selasa (25/6).

Anies menegaskan pemberian IMB hanya bagi bangunan yang sudah terbangun. Sementara bangunan yang belum dibangun, Anies menyatakan tidak akan menerbitkan IMB kembali. Padahal, bangunan-bangunan itu sempat disegel Anies pada awal Juni 2018 karena disebut tak memiliki IMB. Penyegelan ini adalah bagian dari upaya Anies menghentikan pembangunan di pulau reklamasi. Diketahui juga selain menyegel, ia juga mencabut izin 13 dari 17 pulau reklamasi.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap proyek reklamasi yang dilakukan pemerintah, apa sebenarnya reklamasi itu? Apa positifnya? Apa pula negatifnya? Mengapa begitu kontroversial?

Apa Itu Reklamasi? 

Secara umum, reklamasi dideskripsikan KBBI sebagai kegiatan pengurukan tanah dari dasar sungai atau laut. Termasuk didalamnya kegiatan pembentukan daratan buatan atau pemanfaatan lahan tidak terpakai. Oleh karena berhubungan langsung dengan bentuk alamiah lingkungan, kegiatan ini perlu disertai bermacam izin sebelum bisa dilakukan. Beberapa izin tersebut seperti izin Detail Engineering Design (DED), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL) dan sebagainya. Hasil penelitian awal itulah yang bakal menentukan sebuah proses reklamasi layak dilakukan atau tidak. Izin tersebut diberikan oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLDH).

Reklamasi dilakukan ketika suatu wilayah mengalami erosi yang cukup parah sehingga perlu dilakukan upaya untuk memperbaikinya karena lahan tersebut dianggap penting oleh negara. Reklamasi umumnya dilakukan dengan tujuan perbaikan dan pemulihan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Setelah direklamasi, lahan bisa dimanfaatkan menjadi pemukiman, objek wisata hingga kawasan niaga. Di Indonesia sendiri saat ini ada beberapa wilayah yang mengalami reklamasi, salah satunya adalah reklamasi pantai di Jakarta Utara.

Manfaat Reklamasi Bagi Kemajuan Daerah

Persoalan soal izin dan dampak yang ditimbulkan seringkali menjadi bahan perdebatann terkait pelaksanaan reklamasi. Apalagi, isu seputar maraknya korupsi dan tidak transparannya proses perizinan pun seringkali memperkeruh masalah. Padahal, jika berjalan dengan baik, reklamasi dapat mengurangi kepadatan penduduk dengan penambahan luas daratan baru.

  • Perluasan Lahan

Penambahan wilayah diatas laut seringkali jadi solusi kurangnya lahan kosong di perkotaan. Seperti Bandara Kansai di Jepang yang sepenuhnya dibangun diatas pulau buatan diatas laut. Hal itu dapat mengatasi masalah kebisingan serta padatnya wilayah sekitar bandara. Tersedianya tambahan daratan buatan hasil pengurugan pantai ini dapat dimanfaatkan untuk bermacam kebutuhan. Selain itu, daerah yang dilakukan reklamasi menjadi aman terhadap erosi karena konstruksi pengaman sudah disiapkan sekuat mungkin untuk dapat menahan gempuran ombak laut. Daerah yang ketinggianya dibawah permukaan air laut bisa aman terhadap banjir apabila dibuat tembok penahan air laut di sepanjang pantai.

  • Jadi Kawasan Wisata

Daratan hasil reklamasi bukan nggak mungkin bisa disulap jadi surga wisata dan tujuan turis internasional. Buktinya pulau buatan Palm Jumeirah, Jebet Ali, Deira hingga World Seven merupakan tujuan turis paling populer di kota Dubai, Uni Emirat Arab. Tata lingkungan yang bagus dengan perletakan taman sesuai perencanaan, sehingga dapat berfungsi sebagai area rekreasi yang sangat memikat pengunjung.

  • Kawasan Konservasi Alam

Reklamasi juga dapat mengembalikan konfigurasi pantai yang terkena abrasi ke bentuk semula. Munculnya potensi variasi flora dan fauna baru, dan lain sebagainya. Seperti kawasan reklamasi Oostvaardesplassen di Belanda dan Semakau Landfill di Singapura. Kawasan itu kini menjadi rumah bagi satwa liar, flora dan fauna baru yang dijaga pertumbuhannya.

Tetap Punya Dampak Negatif

Meski baik, sayangnya reklamasi juga bisa berdampak negatif bagi lingkungan jika dilakukan dengan kurang seksama. Reklamasi bisa menyebabkan meningginya permukaan air laut sehingga pemukiman yang terletak di daerah pantai rawan tenggelam. Hal itu juga bisa berujung pada tanaman yang mati, area persawahan yang tak bisa lagi digunakan bercocok tanam hingga rusak atau musnahnya habitat hewan. Alhasil keseimbangan ekosistem alam pun menjadi terganggu. Pada akhirnya, reklamasi juga bisa menyebabkan pencemaran laut yang sangat parah. Akibatnya ikan-ikan mati sehingga nelayan berpotensi kehilangan lapangan pekerjaan.

  • Merusak Ekosistem Laut 

Pada beberapa bagian pantai, ekosistem laut seringkali perlu dilestarikan. Jika reklamasi dilakukan ditempat ini, tentunya dapat menghancurkan ekosistem laut yang telah ada. Selain itu juga bisa membahayakan kehidupan satwa laut yang masih berada di wilayah tersebut. Musnahnya tempat hidup hewan dan tumbuhan pantai akan mengganggu keseimbangan alam. Apabila gangguan dilakukan dalam jumlah besar maka dapat mempengaruhi perubahan cuaca serta kerusakan planet bumi secara total. Lebih lanjut pencemaran laut akibat kagiatan di area reklamasi dapat menyebabkan ikan mati sehingga nelayan kehilangan lapangan pekerjaan.

  • Peninggian Permukaan Air Laut

Area yang sebelumnya berfungsi sebagai kolam air telah berubah menjadi daratan mengakibatkan peninggian permukaan air laut. Sehingga daerah pantai lainya rawan tenggelam, atau setidaknya air asin laut naik ke daratan sehingga tanaman banyak yang mati, area persawahan sudah tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam, hal ini banyak terjadi diwilayah pedesaan pinggir pantai.

  •   Memicu Perubahan batas Teritorial

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pernah mengungkapkan bahwa proyek reklamasi pantai Singapura justru menggeser batas teritorial negara tetangganya, termasuk Indonesia.

  • Eksploitasi Pasir dan Tanah Ilegal

Karena membutuhkan tanah dalam jumlah besar, reklamasi sering memicu penambangan pasir secara ilegal. Bahkan Indonesia pernah mengalami kerugian trilyunan rupiah gara gara penambangan pasir ilegal ini.

Sukses Reklamasi di Berbagai Belahan Dunia

Di tengah jalan berliku pelaksanaan reklamasi di Indonesia ini, sejumlah negara telah sukses melakukan reklamasi sampai akhirnya bisa menciptakan pulau-pulau buatan super indah. Pulau-pulau apa saja? Berikut 5 negara berdasarkan data yang dihimpun rakyatrukun.com dari laman Kementerian Pekerjaan Umum dan sumber lainnya.

1. The World Islands

The World Island terlihat sangat indah bila dilihat dari ketinggian. The World Islands atau Kepulauan Dunia berada di Dubai, tepatnya di terletak di Teluk Persia. Ini adalah satu dari sejumlah pulau buatan super indah yang membuktikan keberhasilan Dubai dalam proses reklamasi. Dibangun dari pasir yang dikeruk dari perairan pantai yang dangkal, proyek ini dirancang oleh penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

2. The Palm Jumeirah atau Palm Islands

The Palm Jumeirah merupakan satu dari tiga set pulau buatan manusia yang ada di Dubai. Terletak di pantai Dubai, Uni Emirat Arab, kepulauan ini dibangun dengan cara reklamasi oleh perusahaan pemerintah UEA, Nakheel. Sesuai namanya, pulau ini terlihat begitu artistik karena berbentuk seperti pohon palm.

3. Korea Selatan

Korea Selatan beberapa kali mereklamasi pantainya. Salah satu reklamasi itu membentuk daratan Song Do yang terletak di pantai barat semenanjung Korea, di tepi sebelah timur laut Kuning. Lokasi reklamasi di Song Do ini memiliki luas keseluruhan 38.000 hektare, yang dibagi menjadi 3 (tiga) zona, yakni resort, Bandara Internasional Incheon, dan kawasan industri. Keberhasilannya terlihat dari Bandar Udara Internasional Incheon yang menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Bandara ini menggantikan Bandar Udara Internasional Gimpo.

4. Jepang

Negara ini pernah melakukan reklamasi di Kansai di Kyoto, Jepang. Kawasan reklamsi ini dimanfaatkan sebagai perluasan pelabuhan laut dan perluasan Bandara Internasional Kansai. Kawasan ini memiliki luas kira-kira 10 kilometer persegi (panjang 4 km dan lebar 2,5 km), sebenarnya memiliki potensi kegempaan dan serangan badai (thypoons). Namun para ahli berusaha meminimalkan dampak dengan melakukan rekayasa teknologi.

5. Singapura

Negara kecil ini telah memperluas wilayahnya hingga 710 km persegi dengan reklamasi. Perluasan wilayah ini dilakukan sesuai dengan Concept Plan pada 2001. Tujuannya, antara lain untuk menambah kawasan perumahan, industri dan rekreasi. Singapura telah memiliki rencana perluasan wilayah melalui Concept Plan ini hingga 50 tahun mendatang.

Reklamasi Dapat Dilaksanakan Sesuai Regulasi Yang Berlaku

Setiap pembangunan dan perubahan yang dilakukan pemerintah memang tidak semua masyarakat akan diuntungkan. Perihal reklamasi ini, para nelayan di sekitaran pantai adalah golongan yang sangat dirugikan. Namun, manfaat dari reklamasi ini akan dirasakan untuk jangka panjang bagi keseluruhan masyarakat. Bagaimanapun pemerintah sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang ditimbulkan.

Langkah Pemerintah DKI melakukan reklamasi di teluk Jakarta sebagai upaya pemekaran kawasan yang nantinya akan menjadi daerah bernilai ekonomis tinggi, dan dapat berpengaruh pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Pemerintah dalam melaksanakan reklamasi tentunya telah melakukan pertimbangan dan berlandas peraturan yang terkait dalam pelaksanaan reklamasi teluk pantai jakarta. Jika peraturan tersebut dapat di jalankan dengan baik sesuai peraturan yang berlaku maka akan meminimalisir adanya kesalahan-kesalahan yang membuat masyarakat marah dan demo. Reklamasi ini dapat dilakasanakan dengan syarat harus sesuai dengan regulasi dan ketentuan yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…