Gempa bumi berkekuatan 6,0 Skala Richter (SR) terjadi di wilayah Tenggara, Mamberamo Tengah, Papua pada Senin pagi ini, 24 Juni 2019. Informasi ini dipublikasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun resmi Twitter-nya pagi ini. Gempa bumi terjadi di kedalaman 15 kilometer, dan tidak berpotensi tsunami

“Gempa Mag:6.2, 24 Jun -19, 08.05.27 WIB, Lok: 2.49, LS, 138,74 BT (48 km Tenggara Mamberamotengah-Papua, kedalaman: 15 km, tdk berpotensi tsunami #BMKG,” cuit BMKG.

Kabupaten Mamberamo Tengah adalah kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Situs resmi Pemkab Mamberamo mencatat batas wilayah Utara yakni Mamberamo Ulu, batas Timur adalah Elelim dan Abenaho, sementara batas Selatan yakni wilayah Wolo dan Bolakma. Adapun batas Barat yakni Bokondini dan Kembu. Kabupaten Mamberamo Tengah merupakan daerah otonom baru yaitu pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kabupaten Mamberamo Tengah di Provinsi Papua.

Satu hari sebelumnya, gempa berkekuatan 4,8 SR juga mengguncang Sentani, Jayapura, Minggu (23/6/2019). Gempa diketahui berpusat di darat 57 km Barat Daya Jayapura. Gempa dirasakan dalam skala MMI yakni II-III Sentani dan terjadi pada pukul 14:04:05 WIB, atau 16:04:05 WIT. Masih dilansir BMKG, gempa berkedalaman 34 km itu berlokasi di 2.87 Lintang Selatan (LS) dan 140.06 Bujur Timur (BT) dan tidak berpotensi tsunami.

Rangkaian gempa yang mengguncang timur Indonesia pada hari ini, Senin (24/6/2019), belum berakhir. Setelah gempa 6,0 SR di Mamberamo Tengah, Papua, kini guncangan gempa melanda Maluku Barat Daya, Maluku, dengan kekuatan Magnitudo 7,7.

“#Gempa Mag:7.7, 24-Jun-19 09:53:39 WIB, Lok:6.51 LS,129.27 BT (245 km TimurLaut MALUKUBRTDAYA), Kedlmn:231 Km, tdk [tidak] berpotensi tsunami #BMKG.” tulis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) via akun Twitter resminya @infoBMKG.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui jenis gempa bumi tersebut.

Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, gempa yang terjadi di Kabupaten Mamberamo Raya merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Kabupaten Memberamo Raya ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sistem Sesar Yapen. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran miring yang merupakan kombinasi antara pergerakan mendatar dan naik (oblique-thrust),” ujarnya dalam rilis resmi BMKG.

Gempa Terasa Hingga Ke Darwin Australia

Gempa bumi tektonik berkekuatan M 7,4 di Maluku Tenggara Barat, Maluku, Senin (24/6/2019), juga terasa hingga Darwin, Australia. Demikian dilaporkan Media Australia SBS seperti dikutip CNBC Indonesia.

USGS melaporkan gempa terjadi di kedalaman 220 kilometer atau 136 mil di bawah permukaan laut. Australian Tsunami Warning Centre menyebut gempa itu juga terasa di Darwin, utara Australia.

“Tidak ada ancaman tsunami terhadap daratan Australia yang terdeteksi,” tulis Australian Tsunami Warning Centre dalam catatannya.

Masyarakat di Darwin dilaporkan merasakan guncangan akibat gempa tersebut. Ada pula laporan kerusakan di sejumlah properti. Masyarakat pun telah dievakuasi dari gedung yang berguncang.

“Rumah saya di Palmerton masih berguncang dan dinding belakang sedikit retak,” ujar salah seorang warga via akun Twitternya.

Pada Senin (24/6/2019) pukul 09.53.40, wilayah Laut Banda diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M 7,7 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M 7,4.

Hasil analisis juga menunjukan pusat gempa bumi terletak pada koordinat 6,44 LS dan 129,17 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 289 km arah barat laut Kota Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku pada kedalaman 220 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi di wilayah Laut Banda ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan geser (strike-slip fault),” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam rilisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…