Ratusan Petugas Hitung Suara Pemilu Meninggal. Apa Solusinya?

Di update per tanggal 24 April pukul 15.00 WIB, dicatat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sebagai penyelenggara pemilu yang mengalami kedukaan bertambah. Saat ini 144 orang yang wafat dari penyelenggara pemilu dan 883 sakit. Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik mengatakan angka itu bertambah dari jumlah sebelumnya 119 orang yang tercatat pada Selasa (23/4). Keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan pelaksanaan pemilu 2014 lalu. Petugas KPPS yang meninggal dan sakit tersebut diakui karena kelelahan menghitung surat suara (real count) secara manual sampai tidak tidur selama beberapa hari. Penyebab lainnya adalah petugas terkena serangan jantung. Bermula dari kelelahan yang dialami petugas KPPS, stres akan meningkat. Faktor dari stres ini akan berpengaruh ke jantung.

Dilansir CNNIndonesia.com (24/4), KPU mencatat hanya di Provinsi Maluku Utara, daerah yang tidak ada petugas sakit ataupun meninggal dunia. Sementara Provinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah yang petugasnya paling banyak mengalami sakit yakni 191 orang, sedangkan Jawa Barat adalah daerah dengan petugas meninggal dunia terbanyak yaitu 38 orang.

Walaupun KPU menyatakan bahwa petugas KPPS yang meninggal dan sakit akan mendapat santunan, tentunya hal ini bukanlah suatu solusi jangka panjang yang tepat. KPU perlu melakukan evaluasi terhadap sistem yang digunakan untuk menghitung surat suara pada setiap Pemilu. Memang benar adanya jika kita selayaknya memberikan penghargaan dan apresiasi pada KPU, Bawaslu, dan petugas keamanan yang telah melakukan pekerjaan besar dan berat. Bahkan saat ini mereka mendapat gelar Pahlawan Demokrasi, namun perlu diketahui bahwa ada keluarga yang kehilangan untuk selamanya. Lantas apa solusi yang tepat bagi KPU untuk meminimalisir kedukaan yang dialami oleh para petugas KPPS selama menjalani proses penghitungan suara pada Pemilu?

Terapkan Sistem Kerja Shift

Masih ada beberapa hari menuju tanggal 22 Mei dimana hasil penghitungan suara Pemilu 2019 akan resmi dirilis oleh KPU. Selama waktu yang kurang lebih sebulan lagi tersebut perlu dipertimbangkan untuk menerapkan sistem kerja shifting. Dengan sistem kerja secara shift, kesempatan petugas untuk bisa memanfaatkan waktu tidur menjadi lebih besar. Agar proses penghitungan surat suara dalam berjalan selama 24 jam dalam seminggu, KPU dapat menerapkan sistem shift pagi, siang dan malam. Petugas yang mendapat giliran shift pagi akan bisa memanfaatkan jam istirahat, dan seterusnya.

Menambah Jumlah Petugas

Dengan beban kerja yang banyak dan dikejar waktu deadline, sebaiknya KPU juga menambah jumlah petugas yang menghitung jumlah suara. Tentunya dengan tetap memilih petugas dengan kredibilitas yang baik. Penambahan jumlah petugas dianggap mampu mempercepat proses penghitungan suara.

Sediakan Pos Kesehatan

Menyediakan pos kesehatan di KPU tempat penghitungan real count merupakan hal yang penting. Petugas yang mengalami kelelahan bisa langsung ditangani dengan cepat oleh tim medis. Pos Kesehatan juga bisa membantu dengan memberikan obat-obatan untuk mengurangi efek stress bagi para petugas. Dilansir Liputan6.com (24/4), stres yang tinggi karena kelelahan akan mengganggu proses metabolisme dan hormonal di dalam tubuh. Kelelahan terjadi karena dipaksanya fisik dan mental untuk bekerja secara terus-menerus tanpa istirahat yang cukup. Menurut dokter, sebaiknya sebelum bertugas, petugas KPPS perlu medical check up (pemeriksaan kesehatan). Bisa juga untuk persyaratan jadi petugas KPPS dalam rentang usia berapa saja. Karena pengaruh stres ini cukup besar, apalagi buat mereka yang punya riwayat penyakit jantung dan berisiko kena serangan jantung.

Perhatikan Soal Asupan Petugas

Beberapa cerita petugas KPPS pun ada yang tidak sempat makan dan istirahat demi lekas menyelesaikan penghitungan surat suara. KPU sebaiknya memperhatikan asupan makanan bagi petugas KPPS, jika memungkinkan dengan menyediakan makanan khusus di ruang kerja para petugas agar makanan yang dikonsumsi lebih terpantau. Petugas KPPS disarankan untuk tidak mengkonsumsi banyak kopi walaupun harus begadang. Dilansir Detik.com (14/4), dr Andreas Prasadja, RPSGT, pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran mengatakan bahwa saat begadang, satu hal yang harus diperhatikan adalah soal asupan. Disarankan untuk menghindari rokok yang dapat memperberat kerja jantung. Kopi pun lebih baik diminum di sore hari, bukan saat begadang itu sendiri. Malam hari adalah waktunya tubuh melaksanakan detoksifikasi, sehingga bila ada yang orang yang begadang lalu minum stimulansia seperti kopi atau minuman penambah tenaga lainnya, yang ada justru kerja ginjalnya akan semakin berat. Lagipula mengonsumsi kopi tidak akan banyak membantu meredam efek kurang tidur yaitu kelelahan keesokan harinya. Kebugaran otak juga tidak akan kembali hanya dengan minum kopi dan sejenisnya.

Mengurangi Aktivitas Sosial Media Bagi Petugas

Komentar-komentar dan berita-berita yang akhir-akhir ini beredar di media online dan media sosial pasca Pemilu 2019 dianggap semakin tidak sehat. Efek dari pemberitaan yang tidak benar mampu memicu beban stress tidak hanya bagi masyarakat, yang terlibat dalam Pilpres dan Pileg 2019 tapi juga berdampak kepada petugas KPPS sendiri. Petugas KPPS dituntut masyarakat untuk bekerja dengan integritas tinggi untuk tetap menerapkan transparansi selama proses penghitungan suara nyata. Oleh karena itu, KPU perlu membatasi penggunaan HP bagi petugas selama menjalankan tugasnya.

Mengkaji Penerapan E-Counting

Sebagai salah satu hasil evaluasi Pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka opsi melakukan penghitungan suara secara elektronik atau e-counting dalam pemilihan umum berikutnya. Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai ide e-voting dirasa tak relevan dengan kondisi di Indonesia, namun saat ini lebih dibutuhkan e-counting atau penghitungan suara secara elektronik. Beberapa waktu lalu, wakil presiden Jusuf Kalla juga mengevaluasi agar pelaksanaan Pilpres dan Pileg kedepannya agar dilakukan secara terpisah. (Baca Juga : JK Mengakui Pemilu Indonesia Masih Rumit. Benarkah?)

Walaupun saat ini penerapan e-counting masih sekedar wacana, diharapkan KPU dan Bawaslu dapat mempertimbangkan penerapannya di Indonesia, sehingga hasil penghitungan suara dalam Pemilu tidak memakan waktu yang lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…