Rekam Jejak Habib Bahar bin Smith

Habib Bahar bin Smith belakangan ini menjadi perhatian setelah terjerat kasus ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo. Habib Bahar memang dikenal sebagai seseorang yang kontroversial dalam hal aksi dan ceramahnya selama ini.

Sebelum kasus ujaran kebencian, Habib Bahar pernah terlibat beberapa kasus lainnya sejak 2010. Berikut ini rangkuman dari berbagai sumber soal kasus yang pernah menyeret nama Habib Bahar bin Smith.

1.Pernah terlibat kerusuhan di Makam Mbah Priok (2010)

April 2010 terjadi kerusuhan yang terjadi di Koja, Jakarta Utara. Kerusuhan dipicu karena adanya rencana eksekusi tanah Makam Mbah Priok yang ada di area Terminal Peti Kemas Tanjung Priok oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Warga sekitar pun menentang rencana tersebut, sehingga terjadi bentrokan dengan Satpol PP dilokasi tersebut. Habib Bahar sendiri mengakui pernah terlibat langsung dalam aksi kerusuhan di Koja tersebut. Habib Bahar bin Smith mengakui kerusuhan tersebut saat mendekam di tahanan Mapolrestro Jakarta Selatan terkait kasus sweeping Kafe De Most.

2.Terlibat aksi penyerangan Jemaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama (2010)

Selain di Makam Mbah Priok, Habib Bahar bin Smith ternyata pernah terlibat dalam aksi kerusuhan lainnya pada 2010 silam. Seperti yang diberitakan  pada 29 Juli 2012, Habib Bahar bin Smith mengakui pernah memimpin penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama.

Saat itu ia tengah ditahan atas kasus sweeping di Kafe De Most yang berujung perusakan. “Iya, benar. Insya Allah itu saya,” kata Bahar bin Smith soal penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah.

Pengakuan Habib Bahar itupun dipertegas pernyataan Imam Sugianto yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Selatan. “Tahun 2010 kebetulan HBH ini pernah memimpin penyerangan jemaah Ahmadiyah yang ada di Kebayoran Lama, sempat ditangani di Polres,” ujar Imam pada Minggu (29/7/2012).

3.Sweeping Kafe De Most yang berujung perusakan (2012)

Kasus ketiga yang menyeret nama Habib Bahar bin Smith adalah aksi sweeping di Kafe De Most yang berujung peruisakan pada 2012 silam. Dalam aksi tersebut terdapat 100 orang dilaporkan telah menyerang dan merusak Kafe De Most Bintaro, Pesangrahan, Jakarta Selatan pada Sabtu (28/7/2012).

Menurut beberapa orang yang melihat kejadian dilokasi, massa yang dating ke lokasi dengan mengendarai sepeda motor pada pukul 23.00 WIB tersebut langsung masuk menuju pos keamanan dan meminta agar kafe ditutup. Kemudian massa memecahkan dinding pos keamanan menggunakan benda – benda tumpul.

Habib Bahar ditangkap di jalanan saat sedang konvoi bersama massanya. Habib Bahar mengakui semua perbuatannya dalam aksi sweeping di Kafe De Most. “Sudah biasa dilakukan setiap bulan Ramadhan saya dan pengikut sweeping ke tempat-tempat maksiat,” tutur Habib Bahar. “Mereka berbuat maksiat di sana. Mabuk-mabukan, jadi harus ditindak,” tambahnya.

4.Kasus ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo (2018)

Akhir November 2018 lalu, nama Habib Bahar bin Smith menjadi perbincangan setelah video ceramahnya viral dan dilaporkan Jokowi Mania (Joman) serta Cyber Indonesia. Dikutip dari Kompas.com, Habib Bahar disebut-sebut telah menebar ujaran kebencian karena menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam ceramahnya.

Terdapat video yang viral di media social mengenai Habib Bahar menyebut Presiden Jokowi sebagai pengkhianat negara dan rakyat. Pada Reuni Akbar Alumni 212 yang berlangsung Minggu (2/12/2018), Habib Bahar bin Smith mengungkapkan alasan mengapa ia menyebut nama Jokowi dalam ceramahnya.

Terlebih saat itu ia melontarkan pernyataan kontroversial. “Saya sampaikan kenapa saya berkata seperti itu karena kita lihat dalam peristiwa 4 November 2016 para ulama dan habib diberondong gas air mata, tapi Presiden malah kabur,” ungkap Habib Bahar.

“Kalian yang melaporkan saya, jika hal itu akhirnya dianggap kesalahan maka saya tidak akan minta maaf, lebih baik saya busuk di dalam penjara,” lanjutnya. Berkas – berkas kasus Habib Bahar bin Smith ini akan segera dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

5.Diduga aniaya dua remaja di Bogor (2018)

Belum selesai kasus ujaran kebencian terhadap Jokowi, Habib Bahar bin Smith diperiksa Direktorat Kriminal Umum Polda Jabar hari ini, Selasa (18/12/2018). Dikutip Tribunnews dari Kompas.com, pemeriksaan tersebut dilakukan atas laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan Habib Bahar terhadap dua remaja berusia 17 dan 18 tahun di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Penganiayaan diduga dilakukan di sebuah pesantren di Kecamatan Kemang pada Sabtu (1/12/2018) pukul 11.00 WIB. Ia dilaporkan ke Polres Bogor atas dugaan secara melakukan kekerasan terhadap orang atau penganiayaan dan/atau melakukan kekerasan dengan nomor laporan LP/B/1125/XI/1/2018/JBR/Res Bgr tertanggal 5 Desember 2018. Kamis (28/2/2019) Habib Bahar pertama kalinya menjalani sidang kasus penganiayaan terhadap santrinya.

Saat Habib Bahar menjalani siding lanjutan tampak kesal karena eksepsi yang dilayangkan oleh Habib Bahar bin Smith ditolak oleh jaksa. Ketika ditanya, komentar Habib Bahar terkait tanggapan Jaksa terhadap eksespi Habib Bahar, pimpinan pondok pesantren Tajul Alawiyyin itu langsung mengancam Presiden Jokowi. “Saya sampaikan ke Jokowi tunggu saya keluar, Ketidakadilan hukum dari Jokowi tunggu saya keluar dan akan dia rasakan pedasnya lidah saya di panggung,” tegas Bahar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…