Jakarta (RakyatRukun.com) – Indonesia adalah sebuah negara yang dihuni oleh beragam suku dan budaya yang beragam. Tak sedikit daerah-daerah di Indonesia masih mempertahankan kebudayaan setempat. Itulah Indonesia dan kita harus berbangga. Karena kebanyakan kebudayaan yang dianut oleh suatu daerah membuat turis asing keheranan dan berdecak kagum. Barangkali termasuk kita sendiri. Seperti ritual budaya di Indonesia berikut ini:

1. Debus

Debus adalah ritual kekuatan yang berdasarkan spiritual. Bagi orang awam, pertunjukan debus memang terlihat mengerikan karena atraksi debus akan menampilkan kekebalan dari tubuh manusia terhadap berbagai macam benda tajam, benda keras, bara api, dan barang- barang lain yang tidak lazim.

Pemain Debus

Debus menjadi tradisi khas Provinsi Banten yang paling menawan dan unik di Indonesia. Pada pertunjukan debus, akan terdapat atraksi di mana pemain debus akan menusukkan tubuh mereka dengan besi runcing sepanjang 50 hingga 60 cm seperti sedang dipaku. Setelah itu mereka akan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak terluka sedikitpun.

Bagi orang luar negeri, budaya ini tak membuat mereka habis pikir kenapa kita melakukan ini.

2. Ma’Nene

Ini adalah budaya yang dilakukan suku Toraja. Ketimbang memendamnya, warga suku Toraja menyimpan jenazah warga yang sudah meninggal dalam gua. Ma’Nene, begitulah nama ritual ini dikenal. Ritual ini merupakan kegiatan membersihkan jasad para leluhur yang sudah ratusan tahun meninggal dunia. Walaupun sudah tidak banyak yang melakukan ritual ini, tapi di beberapa daerah seperti Desa Pangala dan Baruppu masih melaksanakannya secara rutin tiap tahun.

Ma’ Nene

Tiap tahun, jenazah tersebut akan dibawa ke rumah keluarga, dimandikan dan dipakaikan baju. Rumornya, tubuh jenazah tersebut bisa berjalan atas kemauannya sendiri.

3. Ikipalin

Ada yang mengatakan jika kehilangan seseorang tersayang rasanya seperti kehilangan bagian tubuh. Suku Dani merupakan suku yang mendiami pedalaman Papua, tepatnya di Lembah Baliem.

Ikipalin

Suku Dani memiliki sebuah tradisi yang disebut dengan Ikipalin. Ikipalin adalah tradisi memotong jari sebagai simbol kesedihan saat kehilangan salah satu anggota keluarga lantaran meninggal dunia. Tradisi ini juga bertujuan untuk mencegah malapetaka yang telah merenggut nyawa salah satu anggota keluarga, terulang kembali.
Adapun pemotongan jari tangan ini dilakukan oleh wanita yang kehilangan suami, ayah, ibu, anak, atau adik. Tujuan ritual ini adalah untuk menghindarkan diri dari kesialan.

4. Kerik Gigi

Suku Mentawai di Sumatra memiliki ritual ‘memahat’ giginya. Hal ini hanya dilakukan oleh para perempuan untuk menunjukkan kedewasaannya.

Kerik Gigi

Wanita Suku Mentawai menganggap kecantikan mereka dilihat dari gigi yang runcing. Tradisi meruncingkan gigi ini bernama Kerik Gigi yang sudah dilakukan sejak lama.
Tujuan kerik gigi ialah untuk terlihat cantik dan menarik di mata pria di sekelilingnya. Selain itu sebagai penanda kedewasaan wanita dan dipercaya juga akan memberikan kebahagiaan dan kedamaian.

5. Perang Topat

Perang Topat (ketupat) merupakan ritual tradisi unik masyarakat di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Event ini membawa misi perdamaian dalam keberagaman budaya dan kepercayaan. Bernama Perang Topat, mereka akan saling melempar ketupat satu sama lain. Ritual ini menyenangkan bagi mereka dan banyak yang tertawa ketika melaksanakannya.

Perang Topat

Ritual diawali dengan upacara persembahyangan di tempat pemujaan masing-masing (Hindu dan Islam Wetu Telu). Kemudian mereka ke halaman yang dilanjutkan dengan adegan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara.

6. Mesuryak

Terdapat sebuah tradisi yang ada di Bali yang disebut dengan tradisi mesuryak Bali. Tradisi warisan leluhur yang satu ini masih bertahan hingga saat ini. Apalagi, dalam tradisi ini masyarakat Bali melakukannya dengan gembira dan bahkan bagi-bagi uang.
Mesuryak sendiri memiliki arti yaitu bersorak, berteriak-riak, atau beramai-ramai. Tradisi yang satu ini rutin diadakan setiap 210 hari atau 6 bulan dalam perhitungan kalender Bali, yaitu tepat pada Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan.

Mesuryak

Itu adalah perlambangan mereka memberikan bekal berupa beras dan uang kepada leluhurnya yang ada di Nirwana. Selain persembahan, ritual Mesuryak juga merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan.

7. Pasola

Pasola Dilakukan oleh orang-orang Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pria di sana akan naik ke atas kuda dan bertarung satu sama lain menggunakan tombak kayu. Ritual ini tidak dilakukan demi membenarkan kehormatannya melainkan demi kesuburan dan panen bagus.

Pasola

Pasola Dilakukan oleh orang-orang Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pria di sana akan naik ke atas kuda dan bertarung satu sama lain menggunakan tombak kayu. Ritual ini tidak dilakukan demi membenarkan kehormatannya melainkan demi kesuburan dan panen bagus.

Selain itu, Pernikahan kontroversial yang memunculkan pertentangan di antara dua suku, dilakukanlah prosesi adat pasola untuk melepaskan dan mengakhiri dendam di antara kedua suku. Pasola dilakukan secara berkelompok oleh dua kampung adat atas (pegunungan) dan kampung adat bawah (pesisir).

Mereka percaya jika darah yang terciprat ke tanah saat ritual berlangsung, akan membuat tanah menjadi lebih subur dan menjamin panen bagus.

8. Nyepi

Satu lagi ritual dari Bali. Ritual ini membuat para penganut Hindu untuk berdiam diri di dalam rumah. Karena seluruh umat Hindu di Bali memang diwajibkan untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian.

Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Nyepi

Ada empat pantangan yang harus dilakukan oleh mereka. Di antaranya:

  • Amati Geni yaitu berpantang menyalakan api, lampu atau alat elektronik dan lainnya
  • Amati Karya yaitu menghentikan kerja
  • Amati Lelanguan yaitu berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan
  • Amati Lelungaan yaitu dilarang bepergian.

Karena tidak melakukan aktivitas apapun, bahkan lampunya dipadamkan, Pulau Bali menjadi gelap. Hal ini yang membuat turis lokal maupun asing berdecak kagum.

Menurut masyarakat Hindu, tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Walaupun menarik perhatian para wisatawan asing, beberapa ritual unik diatas sudah mulai ditinggalkan karena pengaruh masukknya agama dan budaya luar. Namun masih ada beberapa yang masih dipertahanankan seperti Nyepi, Perang Topat dan Ma’nene.

Sumber dari:

  • https://bali.idntimes.com
  • Travel.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

WhatsApp Luncurkan Katalog Belanja Buat Pengguna di Indonesia

WhatsApp meluncurkan fitur baru untuk pengguna di Indonesia. Fitur tersebut adalah katalog…