rupiah naik salah siapa?

Seperti yang diketahui bahwa ditahun politik ini, nilai tukar rupiah menjadi salah satu topik yang panas. Namun hanya sedikit orang yang benar-benar mengikuti perkembangan Rupiah yang sedikit stabil saat ini, walaupun pada hari selasa, 13 Maret 2019 kemarin Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor), Saat ini rupiah dipatok di angka 14.251 per USD, hal ini dianggap sebagai penguatan rupiah dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang di angka 14.234 per USD.

Analisa Dini Nurhadu Yasyi sebagai Monex Investindo Futures mengatakan, bahwa dollar AS menguat disebabkan poundsterling yang menguat akibat meningkatnya harapan pasar agar tercapainya kesepakatan Referendum Brexit. Brexit adalah pemungutan suara dari seluruh warga negara Inggris, Irlandia Utara, Wales dan Skotlandia, untuk memutuskan apakah Britania Raya harus keluar dari Uni Eropa atau tetap berada di Uni Eropa. Dampak dari Referendum Brexit sangat dirasakan oleh Negara Uni Eropa karena berpotensi euro melemah terhadap nilai tukar poundsterling.

Britain Exit
Britain Exit

Hal tersebut diduga akan mendorong para investor untuk berinvestasi dalam bentuk mata uang Inggris (Poundsterling) dan euro ke dalam dolar AS, sehingga akan mendorong nilai tukar dollar AS menjadi semakin tinggi. Namun hal tersebut tidak akan berdampak besar terhadap ekonomi negara berkembang seperti Indonesia dan hanya bersifat sementara atau jangka pendek saja. Tetapi, memang harus diakui bahwa dampak Brexit akan sedikit mempengaruhi arus investasi Indonesia dari Inggris.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan akhir-akhir ini diduga masih mempunyai peluang untuk menguat kembali. Karena saat rilisnya data mengenai inflasi Amerika Serikat pada bulan Febuari dibawah ekspektasi pasar global. Pada Indeks data harga konsumen mengatakan hanya bergerak naik 0,1%, di bawah consensus 0.2%, sehingga dinilai akan menjadi sentiment positif untuk mata uang Indonesia (rupiah). Melalui Bank Indonesia (BI), pemerintah juga terus berupaya untuk menstabilkan rupiah, dengan melakukan implementasi kebijakan B20 yang diharapkan, bisa menghemat uang negara sebesar 2 Miliar dolar AS. Selain itu, Pemerintah dan Bank Indonesia juga berupaya menambah cadangan valuta asing dari sektor pariwisata.

Sebagai warga Negara Indonesia, kita wajib membantu penguatan rupiah dengan cara :

  1. Mengurangi atau membatasi belanja produk impor, karena besarnya demand impor khususnya barang konsumsi menyebabkan rasio impor terhadap ekspor relatif tinggi, mencapai lebih dari 90 persen, pada akhirnya justru nilai dollar AS yang melonjak.
  2. Menukarkan dolar AS ke rupiah agar berpengaruh terhadap perputaran mata uang nasional Indonesia (rupiah).
  3. Agar rupiah mengalami penguatan, menunda recana berlibur ke luar negeri dapat menjadi alternatif yang tepat. Karena kita juga harus membeli mata uang asing lalu rupiah tidak akan digunakan.
  4. Memperbanyak transaksi menggunakan rupiah untuk menjaga stabilitas ekonomi dengan membeli kebutuhan pokok selama kenaikan harga masih dalam taraf wajar.
  5. Untuk pelaku pengusaha, mulailah berinvestasi dan berbisnis di bidang pariwisata. Karena dengan hadirnya wisatawan di dalam negeri, maka akan ada banyak transaksi menggunakan rupiah pun berangsur stabil dan akhirnya mata uang Indonesia pun berangsur stabil.

Oleh karena itu, kita wajib bahu membahu untuk menjaga stabilitas ekonomi di Indonesia, dengan mendukung setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca agar melek dan peduli terhadap pekonomian Indonesia dari sektor keuangan, khususnya kurs rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…