Berkembangnya teknologi komputasi awan (cloud computing) bagi perorangan, perusahaan dan pemerintahan menjadikan bisnis satelit internet saat ini sangat diminati. Raksasa teknologi berlomba untuk meluncurkan satelitnya ke angkasa untuk memenuhi kebutuhan internet yang super cepat. Sebut saja SpaceX yang berhasil meluncurkan 60 satelit ke orbit bumi pada Mei lalu, menyusul Amazone berencana meluncurkan 3.236 satelit ke orbit Bumi. Melansir CNNIndonesia.com (9/7), Aerospace menjelaskan sampah antariksa yang saat ini berada di orbit Bumi berisi bongkahan satelit dan roket, roda momentum, inti reaktor nuklir dan pecahan roket yang bertabrakan dengan benda lain hingga dikhawatirkan membahayakan manusia di Bumi. Disamping itu sampah antariksa juga berasal dari satelit usang yang masa orbitnya telah berakhir.

Seiring banyaknya satelit yang dikirim keluar angkasa, resiko untuk satelit saling bertabrakan dan jatuh ke Bumi akan semakin tinggi. Tidak hanya pada tahun ini, sampah antariksa tersebut sudah pernah jatuh pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1981 di Gorontalo. Menurut catatan LAPAN, sampah yang merupakan bagian motor Roket Cosmos-3M miliki Rusia tersebut jatuh objek itu jatuh tepatnya pukul 20.31 WITA pada 26 Maret 1981. Untuk kedua kali jatuh pada tahun 1988 di Lampung merupakan bagian roket Soyuz A-2 Space Launcher yang juga milik Commonwealth of Independent States (CIS) atau Persemakmuran Negara-negara Merdeka (PNM) Rusia. Yang ketiga jatuh pada tahun 2003 di Bengkulu, yaitu bagian roket CZ-3A RRC milik China. Disusul yang keempat tahun 2016, bagian roket Falcon 9 R/B di Sumenep dan kelima pada tahun 2017 di Kab.Agam, Sumatera Barat. Keduanya adalah milik China.

Kepala Pusat Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Robertus Heru Triharjanto menilai satelit yang tengah dibangun saat ini tidak mengandung bahan-bahan beracun maupun berbahaya.Namun ia tetap mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai sampah antariksa yang bertebaran di luar angkasa. Sampah antariksa berdampak kepada kerusakan lingkungan antariksa serta sampah tersebut dapat menabrak satelit yang masih aktif bahkan mengakibatkan kerusakan.

Potensi Bahaya Besar Sampah Antariksa

Meskipun untuk saat ini, dampak sampah antariksa belum masuk ke dalam kategori berbahaaya, namun para ahli menilai akan terdapat potensi bahaya besar yang akan terjadi jika sampah antariksa tersebut terus dibiarkan. Seperti yang dilansir oleh Koran Sindo, beberapa material sampah antariksa yang berpotensi menimbulkan bahaya besar jika jatuh ke Bumi berupa material kuat dan padat, selimut termal di angkasa, reaktor nuklir akibat satelit yang betabrakan serta pelepasan logam cair ke angkasa akibat tabung pendingin di reaktor nuklir satelit retak. Saat ini diakui para ahli bahwa terdapat 500 ribu lebih puing hasil tabrakan obyek Bumi yang rendah bertebaran di Orbit. Ukuran puing ini mulai sebesar ibu jari hingga sebesar tangka air menghiasi luar angkasa.

Teknologi Laser dan Jaring Pembersih Sampah Puing

Para ahli mulai mencari metode untuk membersihkan sampah antariksa tersebut. Melansir tayangan dari CNNIndonesia beberapa metode telah diciptakan oleh para ahli dibeberapa negara sebagai solusi untuk membersihkan sampah antariksa antara lain:

  • Senjata laser raksasa. Merupakan metode dengan menembak sampah puing dari Bumi. Sampah yang terjatuh dan hancur diyakini akan terbakar sendirinya di atmosfer. Kelemahannya, dengan metode ini membuat puing kecil hasil penghancuran dengan laser semakin bertebaran tidak terkendali.
  • Jaring raksasa. Jaring yang ditebarkan oleh pesawat ruang angkasa menjadi solusi lain untuk membersihkan sampah antariksa. Pesawat akan menembakkan jaring kearah sampah satelit yang tidak berguna lagi.
  • Sling-Sat. Selain laser dan jaring, terdapat metode yang disebut Sling-Sat, yaitu dengan menggunakan satelit sling-sat dengan cara menangkap sampah antariksa, mengumpulkannya dan membuangnya ke laut. Namun cara ini dianggap justru dapat mencemarkan laut di Bumi.
  • Kai. Metode yang lain muncul dari JAXA dari Jepang yang menciptakan alat penarik puing sampah angkasa kembali ke atmosfer Bumi bernama Kai.
  • Gripper. Peneliti dari Stanford University juga ikut mengembangkan Gripper yang mampu menangkap puing-puing antariksa dengan sistem perekat yang mirik dengan kaki cicak. Sistem perekat ini mampu menarik benda-benda datar seperi panel surya, sementara bagian kaki dan tangannya dapat menarik benda yang melengkung seperti tubuh roket dibawah gravitasi nol.

Apapun bentuk sampah antariksa dampaknya akan sama seperti sampah yang ada di Bumi. Jika tidak segera dibersihkan, maka akan berdampak buruk dikemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…