Sampah Plastik Nature Silent Killer

Banyaknya sampah plastik saat ini menjadi masalah yang cukup memprihatinkan dalam pencemaran lingkungan. Akibat dari sampah plastik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan tanah maupun lingkungan laut. Sampah plasti mempunyai karakteristik tidak mudah terurai, dalam proses pengolahan sampah plastik dapat menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik. Dalam penguraian sampah plastik memerlukan waktu bertahun-tahun untuk teruari secara alami.

Dengan jumlah penduduk 264 juta, Indonesia berdasarkan studi dari McKinsey and Co. menjadi negara penghasil sampah plastik kedua terbesar setelah Cina. Hal ini terjadi karena banyaknya produksi sampah darat yang tidak diolah dengan baik kemudina berimbas ke lautan Indonesia. Hal tersebut menjadikan kawasan-kawasan pesisir menjadi kotor dan penuh dengan sampah plastik. Dari hasil penelitian, menjelaskan presentase sampah plastik dikawasan pesisir mencapai 36 persen hingga 38 persen.

Permasalahan mengenai sampah plasti ini sebenarnya sudah menjadi permasalah basi negara kita. Sebagai contoh akibatnya adalah pada bulan November 2018 ditemukan seekor paus mati dan membusuk di Morowali, Sulawesi Tengah. Bangkai paus berjenis paus sperma kerdil terserbut ditemukan  dengan sampah plastik seberat 9,8 Kilogram didalam perutnya. Dan atas kejadian tersebut tentunya menjadi salah satu perhatian masyarakan internasional. Sebenarnya bukan untuk pertamakali Indonesia menjadi perhatian dunia internasional mengenai pencemaran lingkungan terkait sampah plastik yang berdampak terhadap lingkungan dan makhluk hidup didalamnya.

Dan pada tahun yang sama pun dihebohkan dengan kiriman sampah plastik yang menggunung di pantai diwilayah Bali. Tidak pula terjadi dipesisir, akan tetapi juga di gunung-gunung yang sering menjadi tujuan pendakian. Walaupun sudah dibuat tempat pembuangan sampah tetapi masih banyak pendaki yang tidak peduli dengan lingkungan dang membuah sampah sembarangan.

Plastik yang nantinya menjadi sampah plastik ini sudah menjadi ketergantungan di aktivitas sehari-hari di masyarakat kita. Dan pola penggunaan barang berbahan plastik dan juga perilaku membuang sampah plastik yang tidak teratur. Bila tidak berubah dari perilau tersebut maka akan menjadi ancaman yang serius terhadap lingkungan dan ekosistem yang nantinya berdampak secara langsung kepada manusia.

Untuk mengatasi permasalahan sampah ini sebenarnya pemerintah sudah mempunyai Perpres 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga dan PP 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Peraturan-peraturan tersebut pun sudah cukup lengkap dalam mengatur permasalah sampah, baik dari segi masyarakat sebagai penghasil sampah rumah tangga maupun sebagai pengusaha selaku produsen.

Akan tetapi peraturan-peraturan tersebut akan hanya menjadi peraturan diatas kertas putih jika tidang didukung dengan kesadaran per-individu masyarakat Indonesia mengenai sampah plastik ini. Karena masyarakat merupakan ujung dari perilaku penglolaan sampah sendiri dan bagaimana perlakuan terhadap sampah tersebut. Hal ini sebenarnya merupakan sebuah pekerjaan ataupun kegiatan yang sederhana tetapi sangat besar. Sederhannya karena penggunan plastik yang nantinya akan menjadi sampah sudah merupakan aktivitas keseharian yang mendarah daging. Dan diperlukan kesadaran pada diri sendiri dan konsistensi yang kuat untuk merubah baik pola penggunaan plastik maupun budaya pembuangan sampah yang teratur. Sebenarnya bukan kemudian menjadi tidak menggunakan barang plastik sama sekali, tetapi mengendalikan penggunaan plastik dengan mengganti dengan barang-barang yang bisa digunakan kembali. Contoh yang paling mudah adalah dengan menggunakan tas belanja yang dapat digunakan berkali-kali untuk mengganti kantong plastik belanja.

Masyarkan juga perlu untuk di edukasi agar tidak membuang sampah sembarangan. Baik di tanah, sungai, maupun perairan laut. Edukasi tentang kesadaran tidak membuang sampah sembarangan dapat dianggap sebuah hal sepele akan tetapi mempunyai efek domino yang sangat besar. Dan memerlukan proses yang sangat panjang. Perubahan yang bersifat mendalam sangat diperlukan bagi para individu agar sadar dan paham akan bahaya sampah plastik yang sementara ini dianggap sebagai masalah biasa dan sepele.

Untuk itu kita sebagai manusia dan masyarakat harus lebih meperhatikan perilaku kita terhadap penggunaan plastik dan perilaku terhadap pembuangan sampah plastik itu sendiri. Apabila hal ini tidak dimulai dari sendiri bahkan bergantu pada pemerintah, tentunya tidak akan merubah kedaruratan negara kita terhadap masalah sampah plastik. Dan akan menjadi ancaman yang lebih parah terahadap lingkungan mungkin saja bisa terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…