Sebar Hoax? Siap – siap Terima Sangsinya

Menjelang pesta demokrasi di Indonesia sudah menjadi isu hangat soal penyebaran berita bohong atau hoax untuk menjatuhkan saingan politiknya. Apalagi didukung oleh kecanggihan teknologi internet saat ini, setiap orang dapat dengan mudahnya untuk melakukan penyebaran berita hoax. Seiring dengan maraknya berita hoax, negara-negara di dunia sudah memberlakukan peraturan untuk menertibkan para penyebar informasi bohong atau hoax di dunia maya. Bahkan para perusahaan media sosial seperti Facebook sudah menyiapkan sistem untuk mencegah masuknya berita hoax di media sosial.

Di Indonesia memiliki peraturan untuk memberikan sanksi bagi para penyebar berita bohong atau hoax. Dalam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE menyebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar”. Penebar hoax di dunia maya juga bias memicu ujaran kebencian yang sanksinya telah diatur dalam KUHP dan UU lain di luar KUHP. Tentunya hukuman ini berlaku untuk penyebar berita bohong yang menimbulkan kerugian bagi seseorang ataupun koporasi.

Kebohongan Dilarang Semua Agama

Dalam perspektif agama berita bohong sama dengan menyebar fitnah dan dusta. Fitnah yang disebarkan kepada seseorang atau kelompok dapat menyebabkan perpecahan, peperangan bahkan saling membunuh. Setiap agama pasti mengajarkan umatnya untuk tidak mengucapkan kebohongan yang dapat menimbulkan hal-hal buruk lainnya. Dalam sejarah Islam, berita bohong, fitnah, atau hoax itu catatan sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad.

Dalam QS.An-Nur : 11 disebutkan “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula). Dalam perintah kesembilan dari sepuluh perintah Allah dalam agama Katolik dan Kristiani menyebutkan “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”. Saksi harus memberitakan apa yang dia lihat, apa yang dia tahu, supaya pengadilan memutuskan dengan tepat. Di dalam Alkitab menceritakan tentang saksi dusta yang dilakukan oleh Raja Ahab saat menginginkan kebun anggurnya Nabot, sehingga akhirnya Nabot dilempar batu sampai mati. Tuhan marah kepada Raja Ahab dan mengirim Nabi Elia, Elia berkata “engkau akan mati karena dosamu”.

Dalam kehidupan Sri Buddha, berita palsu juga menerpa diri-Nya yang disebarkan oleh orang-orang kepercayaan lain yang iri dan berusaha untuk menjatuhkan nama-Nya atau hanya untuk mencari pengikut baru. Dalam Samyutta Nikaya, 2010 : 287, Buddha mengajarkan bahwa “seseorang seharusnya hanya mengucapkan ucapan yang menyenangkan, ucapan yang disambut dengan gembira. Ketika diucapkan tidak membawa keburukan, apa yang diucapkan adalah menyenangkan bagi orang lain”. Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita hanya berbicara hal-hal dengan benar dan bermanfaat. Dalam ajaran Hindu, Tri Pramana,  jika anda tidak melihat dan merasakan, tidak mengetahui sebab musababnya dan tidak mendengar langsung dari orang yang berkompeten, jangan berani-berani ikut menyebarkan. Karena, lebih baik kita terlambat menyebarkan kebaikan daripada terburu-buru menyebarkan kebodohan.

Tuhan sangat keras terhadap pembuat dan penyebar berita bohong dan memberikan sanksi seperti melaknat, menyebut tak beriman, dan garansi di neraka bahkan dari kisah dalam kitab suci menyebut bahwa orang yang memberi saksi dusta akan mati. Sebelum mendapat sanksi di akhirat, penyebar berita kebohongan akan mendapat sanksi dari dunia baik itu berupa sanksi sosial oleh masyarakat dan sanksi hukum mendekam di penjara dan denda. Walaupun sanksi tersebut akan ditanggung oleh pelaku penyebar berita hoax, namun akan lebih bijak jika kita yang mendengar untuk teliti terhadap berita-berita yang disebar secara langsung maupun di dunia maya agar berita kebohongan tersebut tidak semakin memperkeruh suasana bahkan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Jangan Mudah Percaya dan Selidiki Sendiri

Cara efektif agar terhindar dari pemberitaan yang belum tentu benar dapat dilakukan dengan tidak mudah percaya terhadap berita-berita atau informasi yang diberikan orang lain sebelum mendapatkan kebenarannya dari orang-orang yang terkait dan sumber yang terpercaya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penyelidikan sendiri terkait berita yang disampaikan sampai berita tersebut benar-benar sesuai. Sekalipun berita bohong yang disebarkan tidak menimbulkan kerugian bagi seseorang atau koporasi, kebohongan adalah kebohongan. Perbuatan yang tidak terpuji tidak layak dibenarkan. Ingat bahwa dunia dan akhirat akan menolak kebohongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…