Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan hasil sidang sengketa perselisihan Pilpres 2019 pada Kamis (27/6) tepatnya di Gedung MK. Pembacaan hasil sidang yang dimulai hari Kamis siang oleh kesembilan hakim MK ini memutuskan untuk menolak seluruh gugatan oleh pihak pemohon yaitu kubu Prabowo-Sandi disebabkan bukti-bukti yang disajikan dalam perkara tuntutannya tidak memenuhi syarat hukum. Euforia Pemilu 2019 dapat dilihat dari perspektif kompetisi dan resiko demokrasi. Banyak pendukung, simpatisan, dan relawan melihat bahwa hampir semua jagoannya akan menang. Padahal, realita hasil kompetisi akan ada yang menang dan ada yang kalah. Sedangkan resiko demokrasi, pemenang tidak harus yang terbaik, melainkan merujuk pada suara rakyat mayoritas.

Republika.com (21/7/2014) menuliskan bahwa aksi protes memprotes hasil keputusan MK juga terjadi saat pelaksanaan Pemilu 2014 lalu. Fenomena protes-memprotes keputusan KPU sudah menjadi gejala umum dalam setiap Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Tampaknya para politisi mengedepankan adagium yang mengatakan bahwa “tak ada kemenangan yang diraih dengan mudah” secara kreatif untuk berbagai kepentingan.

Menggugat hasil pilpres ke MK memang dibenarkan dalan konstitusi. UU Pemilu No 10 Tahun 2008 menjamin tindakan penolakan keputusan KPU. Hanya saja, langkah hukum sebaiknya ditempuh dalam rangka mengevaluasi kekurangan-kekurangan dalam sistem pelaksanaan pilpres sebagai bahan perbaikan bagi masa berikutnya. Karena itu, jangan sampai terjadi proses hukum sekadar lip service dan upaya memberikan tekanan politik kepada pasangan pemenang demi kepentingan bargaining atau power sharing semata.

Setiap Orang Punya Potensi Menjadi Pemenang

Setiap orang sebenarnya mempunyai potensi menjadi pemenang dan dapat juga belajar menerima kekalahan dengan lapang. Jika dalam suatu perlombaan menjadi pemenang akan memberikan efek gembira. Sebaliknya jika mereka kalah maka kekecewaan, kesedihan dan rasa menyesal tumpah menjadi tangisan. Bagaimanakah sebuah kekalahan dapat diolah sehingga ketegaran jiwa dan mampu menerima kekalahan dengan lapang dada?  

Seperti anak-anak yang akan mengikuti perlombaan, orangtua atau guru hanya mendorong anaknya untuk menjadi pemenang atau menjadi juara pertama. Memang ada baiknya memberi dukungan kepada anak, namun memberi pengertian tentang belajar menerima kekalahan juga perlu dilakukan agar anak mampu menghadapi dengan baik jika kalah dalam perlombaan. Dengan demikian anak-anak sudah didorong untuk memiliki ketegaran jiwa dan mampu menerima kekalahan.

Sama halnya dengan proses demokrasi bangsa kita. Demokrasi harus diarahkan kepada pembelajaran untuk tidak hanya menjadi sekedar pemenang berdasarkan pilihan mayoritas rakyat tetapi juga dewasa dalam menerima kekalahan.

Pemenang Bersiap Untuk Tanggung Jawab Yang Lebih

Menjadi pemenang dalam suatu pertandingan bukanlah sekedar memenangkan piala, namun harus paham bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar lagi kedepannya. Bukan menjadi pemenang lalu duduk manis saja, karena akan banyak pesaing yang akan telah siap berlatih untuk menjadi pemenang pada pertandingan berikutnya.

Pemenang demokrasi harus siap terhadap janji-janji dan komitmen yang diucapkan jauh hari sebelum dipilih oleh rakyat. Janji yang telah diberikan harus ditepati, segala sesuatu visi dan misi harus mengedepankan kepentingan publik bukanlah kepentingan pribadi.

Bagi yang menang dalam Pemilu 2019 bukanlah segalanya, tapi menang adalah mengalahkan apa pun yang ada di urutan kedua. Bagi yang kalah, bukanlah akhir dari perjuangan dan membuat harus terhenti dalam karya, tapi masih banyak medan juang yang terbuka dalam pengabdian di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…