Siap Menang Siap Kalah, Itu Demokrasi Yang Dewasa

Salah satu wujud, kedewasan adalah kesiapan untuk kalah, kesiapan untuk menang. Hal ini diserukan oleh Mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) Prof. Bagir Manan. Bagir Manan menyerukan masyarakat untuk dewasa dalam berdemokrasi. Ciri kedewasan demokrasi adalah siap kalah dan siap menang.

Dikutip dari Detik.com (12/4), Bagir Manan mengatakan bahwa salah satu yang diharapkan dari pemilu, bahwa selain berintegritas, diharapkan juga ada kedewasaan berdemokrasi. Meski secara hukum, orang berhak mempersoalkan kekalahannya, tapi dia harus tunduk pada aturan hukumnya. Bila tidak berdasarkan hukum, maka yang kalah tidak bisa membawa ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Banyak kekhawatiran yang muncul dengan ketatnya persaingan antarpasangan capres dan pendukungnya kali ini. Berbagai kelompok masyarakat saling berargumentasi membela dan mempromosikan capres jagoannya. Media sosial, seperti Twitter, Facebook, dibanjiri oleh opini dan argumentasi yang sama. Belum lagi media elektronik dan cetak yang selalu mencari berita dan berbagai kampanye-kampanye hitam yang selalu menarik untuk diperdebatkan.

Menurut Handi Sapta Mukti, S.SI, MM, seorang pemerhati masalah sosial dan lingkungan, berdemokrasi secara dewasa adalah berdemokrasi tanpa paksaan dan intimidasi, tanpa kampanye hitam, tanpa ada saling memfitnah, menghormati perbedaan dan pendapat pihak lain tanpa harus mengorbankan pertemanan, persahabatan, apalagi persaudaraan. Kedewasaan berdemokrasi dapat dilihat dari cara berkampanye yang lebih menonjolkan visi, misi, program kerja dan target-target yang akan dicapai ketimbang menceritakan kejelekan-kejelekan dan kelemahan pihak lawan.

Kedewasaan berdemokrasi juga terpancar dari proses berjalannya pemungutan suara yang berlangsung dalam suasana aman dan damai, bebas dari kecurangan dan upaya-upaya manipulasi perhitungan suara. Dan, pada akhirnya kedewasaan berdemokrasi juga akan terlihat dari bagaimana kita merespons hasil perhitungan suara, berdemokrasi secara dewasa adalah mau menerima apapun hasil yang diperoleh secara jujur dan adil tanpa perlu mencari-cari kesalahan dan alasan-alasan kecurangan.

Kedewasaan berdemokrasi seharusnya ditunjukkan oleh para pasangan capres yang bertarung, para elite dan pimpinan partai pendukung, yang secara otomatis akan diikuti oleh para pendukung-pendukungnya di tingkat akar rumput. Sehingga, ketatnya persaingan tidak akan menimbulkan konflik horizontal yang pastinya akan merugikan bangsa dan rakyat Indonesia itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…