Sri Mulyani, Sang Wanita Teladan Millenial

Indonesia patut kembali berbangga. Siapa tak kenal Sri Mulyani Indrawati? Menteri Keuangan Indonesia ini kembali dinobatkan sebagai Menkeu Terbaik di Asia Pasifik versi majalah keuangan FinanceAsia pada 2 April 2019. Sebelumnya, FinanceAsia telah menobatkan Sri Mulyani sebagai Menkeu terbaik se-Asia Pasifik pada 2017 dan 2018. Menurut FinanceAsia, Sri Mulyani berhasil membawa ekonomi Indonesia ke arah lebih baik dengan mencatatkan defisit anggaran terendah dalam enam tahun terakhir pada 2018 (1,76 persen dari produk domestik bruto/PDB).

Melihat prestasi yang dihasilkannya membuat kita tercengang. Siapakah Sri Mulyani ini?

Seperti yang dikutip di Wikipedia, Sri Mulyani mendapatkan gelar dari Universitas Indonesia pada 1986. Ia kemudian memperoleh gelar Master dan Doctor di bidang ekonomi dari University Illinois at Urbana-Champaign pada 1992. Tahun 2001, ia pergi ke Atlanta, Georgia, untuk bekerja sebagai konsultan untuk USAID (US Agency for International Development) demi tugas untuk memperkuat otonomi di Indonesia. Ia juga mengajar dalam ekonomi Indonesia sebagai professor di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia State University. Dari tahun 2002 sampai 2004 ia pernah menjabat sebagai direktur eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara.  Sri Mulyani ditunjuk untuk menjadi menteri keuangan pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2004 disaat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai menjabat, Indonesia mendapat $4,6 miliar dari investasi langsung luar negeri. Tahun berikutnya berhasil meningkat menjadi $8,9 miliar. Tak hanya berkarir di Kementerian Keuangan, Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Ekonomi, menggantikan Boediono. Namun pada 2009, ia kembali ditunjuk SBY menjadi Menteri Keuangan. Salah satu prestasinya adalah di tahun 2009 ekonomi Indonesia mampu tumbuh 4.5% disaat banyak negara-negara di dunia mengalami kemunduran. Indonesia juga menjadi satu dari tiga negara dengan pertumbuhan ekonomi diatas 4% pada tahun 2009 disamping China dan India.

Sri Mulyani menjalani karir luar biasa. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Pada tanggal 5 Mei 2010, Sri Mulyani ditunjuk menjadi salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia. Ia menggantikan Juan Jose Daboub, yang menyelesaikan empat tahun masa jabatannya pada 30 Juni, mengatur dan bertugas diatas 74 negara di Amerika Selatan, Karibia, Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara. Penunjukkan ini membuatnya harus mundur dari Menteri Keuangan saat itu. Pengunduran dirinya berdampak negatif pada situasi ekonomi di Indonesia seperti stock exchange yang menurun sebesar 3,8%. Nilai rupiah turun hampir 1% dibandingkan dollar. Merupakan penurunan saham Indonesia yang paling tajam dalam 17 bulan. Kejadian ini disebut brookings sebagai “Indonesia’s loss, and the World’s gain (Kerugian Indonesia, dan keuntungan dunia)”. Pada akhirnya di 2016, Presiden Jokowi meminta Sri Mulyani untuk “pulang kampung” dan menjadi Menteri Keuangan kembali di Kabinet Kerja. Dan ternyata kehebatan Sri Mulyani tak hanya diakui Indonesia, tetapi juga dunia. Tahun 2006, hanya satu tahun setelah menjabat menteri, ia disebut sebagai Euromoney Finance Minister of the Year oleh majalah Euromoney. Tahun 2007 dan 2008, majalah Emerging Markets memilih Sri Mulyani sebagai Asia’s Finance Minister of The Year. Pada tahun 2014, ia disebut oleh majalah Forbes sebagai wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38. Pada 11 Februari 2018 dalam acara World Government Summit di Uni Arab Emirates, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister Award).

Sayang beberapa pihak masih mencibir kinerja hebat Menteri kita ini. Salah satunya adalah Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, yang melayangkan cibiran pada Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mendapat gelar Menteri Keuangan (Menkeu) terbaik di Asia Pasifik. Fadli berkata gelar itu tak mencerminkan kebanggaan Indonesia. Fadli mengklaim hadiah terbaik adalah dr rakyat, yaitu bisa tersenyum dg keadaan. Ekonomi sulit rakyat makin menderita. Lalu benarkah ekonomi kita dalam keadaan sulit dan rakyat makin menderita?

Dilansir dari tribunnews Menteri keuangan mengatakan walaupun berada dalam situasi global tersebut, di sisi lain pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru sedang mengalami akselerasi setelah mengalami tekanan merosotnya harga komoditas sejak 2015-2016. Pertumbuhan ekonomi berada pada tingkat 5,17% di semester I 2018 tertinggi sejak 2014 dan tingkat pengangguran berada pada posisi 5,13% (terendah dalam dua dekade) dan tingkat kemiskinan pada 9,8% (terendah dalam dua dekade). Jadi bisa dikatakan perekonomian Indonesia tidak dalam keadaan sulit.

Tentunya ini masih menjadi pekerjaan Kementerian Keuangan untuk menjadikan ekonomi negara stabil. Banyak kebijakan pemerintah yang nanti didelegasikan ke Kemenkeu untuk menstabilkan keadaan ekonomi. Contohnya dari penerapan pajak, tax amnesty, dll. Semuanya dilakukan Kemenkeu dari komando Sri Mulyani untuk kebaikan perekonomian negara. Kita pun harus selalu percaya pada kinerja pemerintah.

Sebagai generasi muda yang masih mampu menatap masa depan, kita bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Sri Mulyani. Dia bahkan rela untuk aral melintang bekerja sampai luar negeri dan mau kembali ke Indonesia untuk memperbaiki ekonomi negara sendiri. Sri Mulyani tidak berjuang dalam sekejap mata. Untuk menghasilkan kinerja yang telah dia bangun sejauh ini butuh tahapan yang sangat panjang. Berjuang dengan keras di masa muda, demi kontribusi yang baik untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…