Jakarta, Rakyat Rukun – Bagi masyarakat Dayak di hulu Sungai Mahakam, Khususnya di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Kaltim, budaya masih melekat erat dalam keseharian mereka. Dimulai tata cara mengelola lahan dengan ritual. Mereka percaya adanya roh di kayangan yang selalu mengawasi kehidupan mereka.

Bagi perempuan Dayak, mempercantik diri termasuk budaya. Mereka melakukannya dengan tato dan telinga panjang. Di Kubar, bahkan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), banyak dijumpai perempuan bertelinga panjang dengan anting ring perak atau besi yang menjuntai hingga bahu.

Seperti warga Mahulu, Lilik Ping. Perempuan yang masih mempertahankan budaya telinga panjang itu menerangkan, pada zaman dulu, perempuan yang memiliki telinga panjang dianggap tercantik oleh masyarakat di kampung mereka. Proses tindik telinga sudah dimulai sejak kecil.

“Ketika seorang anak perempuan berumur kurang lebih 4 tahun, telinga mereka akan dilubangi (dalam bahasa lokal disebut subang) untuk dibuat bekas tindikan dan agar secara perlahan menjadi terbiasa untuk dipasang hisang, yang merupakan jenis anting untuk memanjangkan telinga,” terangnya yang dikutip dari kaltim.prokal.co.

Semakin bertambah umur diikuti dengan bertambahnya jumlah hisang. Bila perempuan tersebut sudah menikah, total hisang akan berjumlah sekitar 20 buah pada masing-masing telinga, bergantung status sosial masyarakatnya. Hisang terbuat dari bahan perak atau perunggu yang juga disesuaikan dengan status sosial mereka.

Semakin panjang telinga mereka, semakin tinggi pula status sosialnya. Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa tujuan bertelinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, namun justru untuk melatih kesabaran. Jika dipakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita akan beratnya hisang yang dipakai akan semakin kuat.

Walaupun bertelinga panjang, hal tersebut tidak mengganggu perempuan Dayak Bahau dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik berladang, membuka lahan, menaiki perahu, memberi makan ternak hingga membuat kerajinan tangan.

Apakah mereka kesakitan saat menggunakan logam berat di telinga mereka? Tidak. Para perempuan tersebut justru bangga dengan kebudayaan yang mereka miliki. Bagi mereka, telinga panjang merupakan sebuah identitas, simbol keagungan, tanda kebangsawanan dan cermin kecantikan. Identitas perempuan untuk dapat dihargai dilihat dari seberapa panjang telinga mereka.

Hingga saat ini, walaupun kebanyakan perempuan bertelinga panjang sudah memasuki usia senja (boo’doh-nenek), mereka tetap dapat dijumpai sembari membuat kerajinan seraung (topi dari daun pandan) ataupun anyaman rotan.

Sayangnya, perempuan bertelinga panjang nyaris tak diikuti generasi mereka. Kebanyakan dari mereka yang lahir di era 60-an sudah tidak lagi mengikuti tradisi memanjangkan telinga karena dianggap ketinggalan zaman. 

Tradisi leluhur yang dulu dianggap agung itu berada di ambang kepunahan karena hadirnya era modernisasi yang menganggap bahwa menjadi wanita sesungguhnya tak perlu lagi memanjangkan telinga. Saat ini di Kampung Long Tuyoq, tak lebih tujuh perempuan bertelinga panjang dan semuanya sudah berusia lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Arsitek Jembatan LRT Terpanjang di Dunia, Peran Wanita Dalam Pembangunan Nasional

Jakarta (RakyatRukun.com) – Peran serta perempuan dalam memajukan bangsa sudah tidak dapat…