Tertangkapnya Novendri yang diduga terkoneksi dengan jaringan teroris dalam negeri dan luar negeri menunjukkan bahwa terorisme masih akan terus menjadi tantangan bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Ditangkap pada Kamis (18/7) malam, Polda Sumbar Novendi membenarkan bahwa Novendi yang ditangkap Densus 88 berencana melakukan aksinya di Padang, Sumatera Barat pada hari Kemerdekaan RI 17 Agustus mendatang.

Jika dahulu terorisme bergerak meluas melalui jalur pemberitaan media resmi, kini dengan teknologi dan internet sudah jauh berbeda. Kecepatan penyebaran dan pola serangan lebih masif serta dampaknya lebih meluas. Serangan terorisme siber adalah ranah baru tanpa batas saat ini dan berkaitan langsung dengan para teroris tunggal yang dikenal dengan istilah lone wolf. Istilah lain yang dikenal adalah Leaderless Jihad alias jihad tanpa pemimpin.

Menurut Kapolri Tito Karnavian,  Lone wolf  ini mengambil istilah dari serigala. Serigala itu kalau mau menyerang mangsanya, dia lihat, kemudian rombongan dikepung. Tapi ada juga yang Lone wolf itu, serigala itu sendirian menyerang mangsanya. Lone wolf  memiliki pola unik dibanding teroris biasa. Trend ini yang juga sedang populer sekarang. Melansir Kabarpolisi.com, biasanya serangan yang dilakukan pelaku Lone Wolf tidak terlalu besar. Mengingat, pergerakan dilakukan secara perorangan. Namun demikian, pelaku perorangan ini kerap belajar secara otodidak terkait cara teknis pembuatan alat peledak dan informasi lainnya.

Perlu Penguatan Deteksi Dunia Cyber Terhadap Pelaku Lone Wolf

Semua orang saat ini bisa menggunakan internet dengan sangat mudah. Kemajuan teknologi menjadikan setiap jaringan terorisme dapat berkomunikasi satu dengan yang lain.  Kapolri sendiri mengungkapkan bahwa dirinya lebih khawatir terorisme dengan modus Lone Wolf ini karena tidak terorganisir. Setiap orang berpotensi menjadi teroris Lone Wolf ini, karena melalui internet mereka bahkan bisa melakukan apa saja. Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Rosarita Niken Widiastuti menyebutkan bahwa konten-konten negatif yang berisikan radikalisme dan terorisme menjadi meningkat dikarenakan faktor kecanggihan teknologi informasi.

Melansir Okezone.com, Niken Widiastuti bahkan menyebutkan, bahwa dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini sudah terdapat kurang lebih 700 ribu konten-konten negatif, seperti ujaran kebencian, berita bohong atau hoaks, pornografi dan lain sebagainya. Sejumlah 202 konten berisi tentang terorisme dan radikalime. Dari Kominfo sendiri juga telah berupaya untuk fokus melakukan monitoring terhadap konten-konten di media sosial dan sempat menutup akses media Telegram yang sempat diketahui menyebarkan video tentang teori-teori radikalisme dan terorisme.

Sama seperti halnya negara lain, Indonesia juga menemui tantangan dalam mengungkap keberadaan jaringan teror dalam negaranya. Dalam hal ini terutama terhadap jaringan teroris ISIS yang semakin meresahkan. Keberadaan ISIS di Indonesia tentu mengusik kondisi keamanan nasional yang memberi penekanan kepada kemampuan pemerintah dalam melindungi negara dan warga negara dari setiap ancaman yang datang.

Menyebar Melalui Internet, Berantas Juga Dengan Internet

Jika teroris Lone Wolf bisa bergerak memanfaatkan teknologi internet, tentu saja salah satu cara yang tepat untuk memberantasnya adalah dengan memanfaatkan teknologi juga. Pada tahun 2015, informasi yang dimiliki oleh kepolisian dari kelompok peretas (hacker) Anonymous9 yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu target penyerangan kelompok radikal ISIS. Kelompok peretas Anonymous ini sebenarnya telah melancarkan cyber war atau perang dunia maya dengan kelompok cyber yang dimiliki ISIS semenjak kelompok teroris tersebut menyerang Kota Paris. Dalam aksinya mengklaim berhasil menutup 149 website, 101.000 akun Twitter dan menghapus 5.900 video propaganda milik ISIS dan mereka terus berusaha untuk menghilangkan semua akun media sosial yang berhubungan dengan ISIS.

Aksi seperti yang dilakukan kelompok peretas ini memang perlu dijadikan contoh bagi pemerintah Indonesia. Aksi perang dunia maya harus fokus terus dilakukan oleh Lembaga-lembaga yang terkait terhadap pemberantasan terorisme. Memanfaatkan teknologi Big Data untuk mendapatkan data dan informasi  dari seluruh media sosial dan media berita online sehingga konten-konten radikal dan terorisme bisa dideteksi lebih dini. Keahlian tenaga TI dibidang peretas (Hacker) juga saat ini dibutuhkan oleh Indonesia sehingga mampu menembus jaringan informasi online para kelompok radikal seperti ISI, JI, JAD dan sebagainya. Lembaga pemerintah terkait penanggulangan radikalisme dan terorisme ini harus fokus dengan membentuk satuan-satuan atau tim-tim anti teror sehingga hasil kerja menjadi optimal. Disamping itu, aksi perang cyber ini memang harus didukung oleh anggaran dana yang tidak sedikit juga, namun hasil yang akan didapatkan akan sangat berpengaruh terhadap keutuhan Bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…