Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) memiliki banyak pekerjaan rumah pasca kembali dipercaya untuk memimpin Republik Indonesia. Salah satunya adalah formasi kabinet kerja di periode 2019-2024. Jokowi sebenarnya telah mengumumkan formasi kabinet, yakni jumlah kursi masih tetap sebanyak 34. Dari total kursi nantinya sebesar 55% akan diisi oleh kalangan profesional dan 45% diisi oleh kalangan partai politik. Akan tetapi, Jokowi sampai saat ini belum mengumumkan siapa saja para ‘pembantunya’ di periode 2019-2024. Mantan Wali Kota Solo ini sangat hati-hati untuk mengumumkannya.

Jokowi mengungkapkan bahwa 34 kursi pejabat negara akan diisi oleh beragam usia, mulai dari usia 25 tahun alias millenials hingga di atas 35 tahun. Tentunya Jokowi perlu dibantu sosok menteri yang mumpuni. Jokowi disarankan untuk memilih menteri yang cepat dan pintar dalam proses pengambilan keputusan. Kecepatan ini diperlukan karena karakter Jokowi yang selalu ingin cepat. Bukan hanya cepat, menteri Jokowi juga harus bisa memikirkan dampak dari keputusan tersebut.

Jokowi Disarankan Pilih Menteri yang Cepat dan Pintar Ambil Kebijakan

Dilansir dari news.detik.com, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio mengatakan bahwa menteri Jokowi harus memiliki kemampuan kepemimpinan yang mumpuni. Tak hanya itu, menteri pilihan Jokowi pun harus punya integritas tinggi agar tak berpikir untuk korupsi.

“Menteri Jokowi harus mempunyai leadership dan punya integritas tinggi agar tidak kepikiran korupsi,” ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan menteri Jokowi tak harus punya latar belakang pendidikan tertentu. Menurutnya, kalau sang menteri pintar dan punya pengalaman di lapangan, hal tersebut sudah cukup.

“Dia harus smart (pintar). Biar tahu cara memikirkan kebijakannya. Dari mulai review kebijakannya, birokrasi dan lain-lain. Tidak harus sesuai dengan pendidikannya. Kalau dia smart dan punya pengalaman di lapangan, dia bisa dipilih,” tuturnya.

Agus yakin Jokowi akan menggenjot kinerja para menterinya. Walaupun ini merupakan masa terakhir kepemimpinan Jokowi.

“Ya, pastilah Pak Jokowi menggenjot kinerja para menterinya. Tak peduli ini masa terakhir kepemimpinannya. Karena itu dia dipilih lagi jadi Presiden,” tukasnya.

Jokowi Cari Menteri Pemberani

Saat berpidato pertama kalinya sebagai presiden terpilih di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/7/2019), Jokowi menegaskan akan memilih sosok pemberani untuk membantunya memerintah kelak. Sosok menteri yang berani dibutuhkan, salah satunya agar reformasi birokrasi dapat diimplementasikan, sesuai harapan. 

Kebutuhan figur pemberani dikatakan Jokowi ketika membahas kecepatan pemerintah melayani publik. Termasuk salah satunya kecepatan memberikan izin. Awalnya, Jokowi menyebut pentingnya reformasi birokrasi supaya lembaga-lembaga menjadi sederhana dan lincah. Ia lalu berjanji akan memangkas birokrasi yang berbelit dan tidak efektif.

“Akan saya cek sendiri, akan saya kontrol sendiri, begitu saya lihat tidak efisien atau tidak efektif, saya pastikan akan saya pangkas dan saya copot pejabatnya. Oleh sebab itu, butuh menteri-menteri yang berani,” kata Jokowi.

Jokowi sebelumnya sempat menyinggung soal rencana kabinet Indonesia ke depan. Ia menyebutkan beberapa kriteria yang dibutuhkan untuk mengisi kabinet baru. Menurut Jokowi, menterinya harus memiliki kemampuan untuk mengeksekusi program secara tepat dan cepat. Kedua, dia harus memiliki kemampuan manajerial. Kemampuan ini penting untuk bisa mengelola personalia dan anggaran sehingga organisasi kementerian itu betul-betul bisa efektif. Ketiga, kabinet mendatang juga akan banyak diwarnai dengan anak-anak muda. Jokowi menyebut era globalisasi seperti sekarang diperlukan orang-orang yang dinamis, fleksibel, dan mampu mengikuti perubahan zaman yang sangat cepat sekali.

“Ya, bisa saja ada menteri umur 20-25 tahun, kenapa tidak? Tapi dia harus mengerti manajerial, dan mampu mengeksekusi program-program yang ada. Umur 30-an juga akan banyak,” kata Jokowi dalam wawancara khusus dengan harian Kompas, Senin (1/7/2019).

Koordinasi Itu Penting

Koordinasi antar sesama menteri juga merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pemerintahan. Contohnya saja di dalam kementerian koordinasi yang dapat dibaratkan sebagai sebuah orkestra. Menteri-menteri adalah para pemain instrumen, dikoordinasi oleh seorang menko sebagai konduktor. Dalam analoginya, jika sang menteri merasa lebih hebat ketimbang sang menko, atau sang menko gagal menjadi konduktor yang kompeten dan berwibawa, ia akan memainkan instrumennya dengan gayanya sendiri, tanpa aba-aba, dengan partitur, tempo, dan sesuai seleranya sendiri. Kalau ada dua-tiga menteri berperangai serupa, dapat dibayangkan apa jadinya simfoni yang dibangun. Alih-alih tercipta harmoni, suara-suara akan adu nyalang, berantakan, dan tak produktif.

Sebaliknya, jika sang menko menganggap menteri-menterinya kurang cakap atau merasa kurang panggung karena hanya berposisi membelakangi penonton, ia akan turun ke kursi pemain dan memainkan alat musik, tanpa peduli misi besar memimpin orkestra. Lalu semua juga jadi buyar. Begitulah yang akan terjadi dengan pemerintahan Indonesia jika para pejabat tak saling kompak mengusung visi dan misi bangsa. Terakhir, menjadi tugas kita bersama juga pada akhirnya merawat Tanah Air dan bangsa tercinta ini. Mari bergandeng tangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…