TKN: Ini “War Room” Kami, BPN Mana Datamu?

Pasca Pemilu yang berlangsung pada Rabu, 17 April 2019, lembaga survey menampilkan hasil quick count dengan nilai yang seragam dan mirip. Kubu 01 memimpin dengan beda suara sekitar 9 persen. Namun, hal berbeda justru disampaikan oleh Kubu 02. Klaim kemenangan Prabowo dengan perolehan suara sebesar 62 persen berkali kali dideklarasikan. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya yang besar. Darimana sumber data tersebut dan bagaimana cara dan tempat mereka mengumpulkan data. Mengapa bisa berbeda jauh dengan hasil dari quick count.

Lantas Kubu 02 mengeluarkan pernyataan jika hasil quick count  tersebut tidak valid dan sudah dipermainkan. Lembaga survei yang dituding abal-abal dan tidak netral pun angkat bicara dan membuka tantangan kepada kubu sebelah untuk buka-bukaan data dan metodologi quick count. Mereka sudah buka-bukaan tapi kubu sebelah enggan menerima tantangan dengan beragam alasan.

BPN yang selama ini ditantang untuk terbuka atas klaimnya soal penghitungan real count yang memenangkan pasangan Prabowo-Sandigaa pun menjawab tantangan tersebut. Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Andre Rosiade mengungkapkan, proses tersebut dipusatkan di DPP Gerindra.

“C1 kami dikumpulkan dari seluruh Indonesia di DPP Partai Gerindra. Kami yang kerja banyaklah,” kata Andre.

Dilansir oleh Kompas.com yang langsung mengecek informasi tersebut menuju ke Kantor Gerindra dan mencoba meliput kegiatan tersebut kemarin. Saat tiba di kantor yang terletak di Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pukul 10.15 WIB, tampak terparkir empat mobil pribadi dan dua penjaga keamanan. Masuk ke dalam gedung, mereka pun bertemu dengan petugas penerima tamu di DPP Gerindra.

Petugas tersebut menyatakan bahwa di DPP Gerindra tidak ada sama sekali kegiatan penghitungan real count Prabowo-Sandiaga. “Justru di Kertanegara. Di sini sama sekali enggak ada kegiatan. Semua diserahkan di sana. Semua dikawal di sana. Pak Andre Rosiade jarang banget ke sini,” kata petugas tersebut. Dia menambahkan, di DPP Gerindra tidak pernah ada kegiatan yang menyangkut real count seusai Pemilu 2019. “Enggak ada kegiatan real count di sini. Mas bisa lihat sendiri kan, situasinya sepi. Relawan-relawan juga di Kertanegera. Ada juga yang ke sini, tapi kami arahkan ke sana,” katanya kemudian.

Masyarakat kemudian semakin dibuat bingung dengan keberadaan tim perhitungan internal BPN. Pertama lewat deklarasi kemenangan beberapa kali, terus diulang agar masyarakat lama-lama jadi percaya. Mengklaim kemenangan secara sepihak meski hasil quick count menunjukkan hasil sebaliknya. Dan begitu diminta buka data, mereka juga enggan dan tak mau. Tentunya hal ini membuat opini masyarakat terpecah.

Jawaban yang disampaikan oleh tim BPN dinilai oleh banyak pihak tidak konsisten. Yang satu bilang proses real count dilakukan di DPP Partai Gerindra dan yang satu menyebutkan di Kertanegara. Tidak adanya kekompakan dalam memberikan jawaban semakin menciptakan citra buruk pada pernyataan kemenangan tersebut. Padahal kalau memang benar, tidak perlu takut untuk membuka data dan menyampaikan secara umum tempat mereka melakukannya.

Hal berbeda dilakukan oleh kubu Jokowi-Ma’ruf. Mereka berani buka-bukaan perihal tim internal penghitungan suara. Ruang kerja meraka berada di Legian Hotel Gran Melia yang TKN sebut sebagai war room. Dalam ruangan itu terdapat 16 meja dengan enam komputer setiap meja dan dua meja dengan empat komputer setiap meja. War room ini digunakan untuk memantau hasil penghitungan suara.

Ruangan tersebut terbuka dan tidak tertutup untuk umum. Semua orang bisa datang untuk melihat dan bertanya pada orang yang sedang memasukkan data C1 dari TPS. Mereka merekapitulasi real count dari hasil verifikasi C1 dari TPS seluruh Indonesia. Dilansir oleh nasional.kompas.com, mereka memasukkan sejumlah data seperti provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, nomor TPS, dan perolehan suara dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Hasil C1 diperoleh dari aplikasi yang dimiliki TKN, yakni JAMIN, sebuah aplikasi pelaporan saksi mulai dari TPS. Aplikasi JAMIN sebelumnya sudah diperkenalkan TKN di Rumah Cemara 19, pada Jumat (5/4/2019) lalu. Para saksi di TPS diharuskan mengambil foto formulir C1 dan mengunggahnya ke aplikasi. Jika berhasil terkirim, nantinya koordinator wilayah akan mengirimkan notifikasi. Apabila ada kesalahan input data, prosesnya diulang kembali. Data C1 inilah yang dikelola war room untuk rekapitulasi real count. 250 personel, 3 shift kerja Wakil Direktur Saksi TKN Lukman Edy mengatakan, ada 250 orang yang dilibatkan sebagai personel war room TKN. “Ada 250 orang, shift (penugasan) dibagi tiga (dalam 24 jam),” kata Lukman saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.

Shift yang diberlakuakn ini  guna memastikan keberlangsungan input data dan menjaga kondisi kesehatan personel. Menurut Lukman, setiap harinya war room bisa mengelola data 10 ribu hingga 50 ribu data C1. Sebelumnya Wakil Ketua TKN Moeldoko mengatakan, keberadaan war room ini merupakan alat kontrol TKN terhadap penghitungan suara Pemilu 2019. ” War room ini adalah alat kontrol kami,” kata Moeldoko dalam konferensi pers di Hotel Gran Melia, Jakarta, Minggu. Ia menyebutkan, dengan adanya war room ini, jika ada sesuatu yang tidak selaras dalam penghitungan, TKN bisa mempertanyakan di mana letak ketidaksamaannya serta jika ada kemungkinan penyimpangan.

Alangkah baiknya jika Tim BPN juga berani jujur dan terbuka menanggapi tantangan dari berbagai pihak. Masyarakat juga akan mendapat kepastian mengenai data yang disampaikan oleh Tim BPN. Keterbukaan yang seperti ini diharapkan akan meredakan ego terhadap opini yang terpecah dalam masyarakat. Berbagai lembaga survei  telah bersikap sangat terbuka untuk memperlihatkan metode dan datanya. Begitu pula dengan TKN Jokowi. Kini yang tersisa tinggal klaim kemenangan tanpa data milik BPN Prabowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…