Siapa yang tidak kenal dengan kota Hong Kong? Hong Kong adalah kota yang terletak di bagian tenggara Tiongkok di Pearl River Estuari dan Laut Tiongkok Selatan. Hong Kong terkenal dengan perkembangannya yang ekspansif, pelabuhan laut dalam alami, dan kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Melansir redaksi Time Out  Agustus 2008, keterbatasan lahan menjadikan infrastrukturnya padat dengan arsitektur modern, menjadikan Hong Kong sebagai kota paling vertikal di dunia. Hong Kong memiliki jaringan transportasi umum yang sangat baik, dan 90% penduduk menggunakan transportasi massal, baik kereta maupun bus.

Berdasarkan Global Cities Index and Emerging Cities Outlook tahun 2014, di akhir 1970-an, Hong Kong berkembang menjadi penghubung perdagangan utama dan pusat keuangan dunia. Kota ini menempati posisi kelima pada Indeks Kota Global 2014 setelah New York City, London, Tokyo and Paris. Namun, beberapa minggu ini Hong Kong menjadi bahasan panas dalam beberapa waktu terakhir, baik oleh masyarakat umum, maupun juga pelaku pasar keuangan dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di sana, melibatkan jutaan orang dan begitu banyak tetesan darah.

Seperti yang dikutip CNBC Indonesia, Hong Kong bukanlah sebuah negara, melainkan sebuah wilayah administratif khusus yang merupakan bagian dari China. China sendiri merupakan bekas jajahan atau koloni Inggris selama lebih dari 150 tahun. Pasca perang pada tahun 1842, China menyerahkan Hong Kong ke Inggris. Kemudian, China menyewakan sisa wilayah Hong Kong ke Inggris selama 99 tahun. Seiring dengan melejitnya posisi Hong Kong sebagai pusat manufaktur, banyak warga China yang melarikan diri ke Hong Kong guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kesepakatan antara China dan Inggris  tahun 1987 melahirkan asas satu negara dengan dua sistem dengan tujuan untuk mengembalikan Hong Kong kepangkuan China di tahun 1997. Tetap menjadi bagian dari China, Hong Kong memiliki kekuasaan yang besar untuk mengatur wilayahnya dengan sistem hukum dan perbatasannya sendiri. Kebebasan berpendapat (freedom of speech) dijamin di Hong Kong. Namun kini, Hong Kong menganggap kebebasan mereka mulai dibatasi oleh China.

RUU Ekstradisi Menjadi Pemicu Kerusuhan

Berdasarkan kutipan CNBC Indonesia, pemicu kerusuhan yang terjadi di Hong Kong adalah dikarenakan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam memperkenalkan sebuah rancangan undang-undang (RUU) terkait ekstradisi. Pada intinya, jika disahkan, RUU ini akan memberi kuasa kepada Hong Kong untuk menahan orang yang sedang berada di sana (baik itu warga negara maupun bukan) untuk kemudian dikirim dan diadili di China. RUU ekstradisi ini tentu dipandang sebagai masalah besar oleh masyarakat Hong Kong, beserta juga kalangan internasional. Dari sisi lain RUU ini akan lebih memperketat penegakan hukum di Hong Kong namun sisi negatifnya membatasi kebebasan hidup jika berada di kota ini. Apalagi wisatawan yang akan berkunjung ke Hong Kong akan menjadi sangat takut jika terlibat hukum di Hong Kong secara tidak sengaja. Akibatnya kerusuhan terjadi di Hong Kong sejak tanggal 12 Juni, 21 Juni, 1 Juli 2019 hingga akhirnya pada tanggal 8 Juli, Lam mengatakan bahwa RUU ekstradisi yang kontroversial tersebut telah “mati”, tak ada lagi rencana untuk membawanya ke parlemen. Namun demikian, para demonstran tidak surut hingga 21 Juli masih tetap turun ke jalanan serta menjarah area transportasi publik di Hong Kong seperti bandara, MRT dan kereta api.

Peringatan Travel Warning Dikeluarkan RI

Pada hari Selasa, 13 Agustus 2019 secara resmi pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) resmi mengeluarkan travel warning kepada masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung atau melakukan perjalanan ke Hong Kong. Informasi dari KJRI Hong Kong, Kemlu juga menghimbau agar semua WNI yang berada di Hong Kong untuk tetap tenang dan waspada, menjauhi lokasi berkumpulnya massa, tidak terlibat dalam kegiatan politik setempat. Himbauan ini dikeluarkan setelah Hong Kong dilanda demo besar-besaran selama dua bulan terakhir.

Tidak hanya di Indonesia, beberapa negera sebelum Indonesia sudah terlebih dulu mengeluarkan peringatan travel warning seperti Uni Emirat Arab, Singapura, Irlandia, Kanada dan beberapa negara lainnya. Travel warning ini merupakan keputusan tepat yang dikeluarkan oleh pemerintah RI. Diketahui aksi demonstrasi di Hong Kong telah dicampuri oleh aksi terorisme oleh kelompok brutal Triad yang terkenal sebagai mafia di Hong Kong. Kelompok Triad yang mengenakan kaos putih pada video New York Times terlihat memukuli para demonstran dan mengarah ke aksi terorisme. Berdasarkan informasi hingga saat ini, kondisi kota Hong Kong belum kondusif dan kerusuhan dikabarkan akan kembali terjadi pada tanggal 18 Agustus mendatang. Diharapkan warga negara Indonesia menunda keberangkatan menuju Hong Kong jika tidak terlalu mendesak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…