Yogyakarta, RakyatRukun.com – Saat ini di beberapa wilayah di Infonesia bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah marak diteror ular kobra bahkan ular  kobra muncul di beberapa kota besar. Sebagian masyarakat resah. Ular ini meneror warga di berbagai tempat. Ada yang diteror gorong-gorong, sungai, bahkan yang lebih mengerikannya lagi di dalam rumah. Di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta meneror seisi rumah, hingga pemilik rumah memilih mengungsi.

Banyak warga yang sudah tergigit oleh hewan melata yang mematikan ini. Mengapa akhir-akhir ini ular kobra lebih sering dijumpai atau sering muncul? Lalu, bagaimana mengantisipasinya?

Ketua Tim Rescue Animal Keeper Jogja dan Pengkawalan kobra DIY Saliyo mengatakan dalam satu tahun, rata-rata ular mengalami satu musim kawin di awal musim kemarau. Biasanya ular-ular besar keluar untuk bereproduksi dan musim menetas di awal musim hujan.

Musim Hujan Potensi Ular Berimigrasi

Curah hujan yang semakin tinggi yang berdampak banjir, dapat merendam sarang-sarang ular yang berada di gorong-gorong dan sungai. Cuaca dingin sangat berpotensi agar ular bermigrasi mencari lokasi yang hangat dan nyaman.

Menurut Saliyo, suhu ruangan hangat dan lembap cenderung disukai oleh ular untuk tempat menetaskan telur. “Mengapa berimigrasi? Karena ular adalah satwa yang berdarah dingin. Sehingga ular tidak bisa memproduksi kalori (energi) di dalam tubuhnya dan mengharuskan mencari tempat hangat,” kata dia saat dihubungi, Minggu 15 Desember 2019.

Ketika merasa terganggu, dia (ular kobra) akan memberi peringatan ketidaknyamanannya dengan mengangkat seperempat badannya serta memipihkan lehernya.

Dia menjelaskan jika masyarakat banyak menemukan ular kecil masuk ke pemukiman, itu artinya ular sedang memasuki tahap awal pengenalan lingkungan. Sedangkan ular besar yang sarangnya terendam air akibat hujan, akan mencari daerah yang dirasa nyaman.

Saliyo mengatakan sampai saat ini masih tanda tanya besar, apakah fenomena ini akibat perburuan atau alih fungsi lahan atau karena faktor musim hujan. Diketahui, sejak akhir November 2019, ular kobra terus muncul di pemukiman warga.

Setidaknya sudah ada 10 laporan dengan 5 lokasi. Laporan kasus kobra tahun ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Namun angka kasus gigitan akibat kobra rendah. Dari karakter kobra yang agresif, mereka akan menyerang manusia ketika merasa terganggu.

“Angka kasus gigitan ular liar ini tergolong kecil, karena mereka cenderung menjauhi manusia. Ketika merasa terganggu, dia (ular kobra) akan memberi peringatan ketidaknyamanannya dengan mengangkat seperempat badannya serta memipihkan lehernya,” kata dia.

Lantas bagaimana tips antisipasi atau menghindari agar ular kobra tidak masuk rumah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Menjaga kebersihan lingkungan
  2. Pojok ruangan dekat pintu atau celah diberi kapur barus karena ular tidak tahan dengan bau-bauan zat kimia.
  3. Pelihara kucing atau anjing sebagai garda depan penjaga keamanan karena kedua hewan itu bersifat teritorial.
  4. Menutup lobang-lobang agar tidak jadi sarang ular.
  5. Jika ular masuk ke lingkungan jangan usir dengan tangan kosong gunakan alat bisa kayu atau bambu 2-3 meter atau semprotkan wewangian atau semprotan serangga di ruangan yang dimasuki ular.
  6. Jika ada yang tergigit kenali jenis atau ciri ular dan segera lakukan pembidaian atau gaplok seperti pertolongam pada korban patah tulang dan segera ke layanan kesehatan terdekat.
  7. Jaga populasi predator atau pemangsa ular di alam seperti garangan, kucing hutan, jenis musang, burung hantu, elang dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…