Indonesia perlu waspada terhadap wabah cacar monyet yang saat ini telah menyebar di Singapura. Melihat jarak Singapura dengan Indonesia berdekatan khususnya Kepulauan Batam, wabah ini bisa menyebar melalui keluar masuknya oranag-orang yang melakukan transaksi perdagangan Singapura-Batam. Pihak otoritas imigrasi perlu waspada dalam mendeteksi para imigran yang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan ataupun bandara di Batam.

Wabah cacar monyet atau monkeypox pertama kali dikonfirmasi oleh pihak otoritas Bandara Changi di Singapura berasal dari seorang pria berusia 38 tahun berkebangsaan Nigeria yang tiba di Singapura pada 28 April 2019 lalu. Melansir Channelnewasia.com (9/5), pasien pria Nigeria yang mungkin telah tertular penyakit langka tersebut setelah makan daging semak (bushmeat) selama di Nigeria, dan dinyatakan positif virus pada 8 Mei. Saat ini dia dalam kondisi stabil di bangsal isolasi di National Center for Infectious Diseases (NCID), Singapura.

Daging semak adalah daging yang diburu dari hewan liar. Istilah ini digunakan di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dalam buku The Threats to Primates and Other Mammals from the Bushmeat Trade in Africa and How This Could Be Diminished, Bowen-Jones dan Pendry menuliskan secara teknis daging semak adalah daging dari mamalia darat yang hidup dalam semak belukar, padang rumput, hutan, rawa, dan ekosistem lain di sekitarnya, sehingga hewan langka pun dapat menjadi target perburuan. Meski demikian, komoditas berupa primata besar pada perdagangan daging semak tidak sampai satu persen. Berbagai hewan daging semak dapat menjadi inang dari berbagai jenis patogen, diantaranya virus Ebola, cacar, TBC, rubella, dan sebagainya. Patogen ini dapat berpindah ke manusia ketika dalam penanganan bangkai hingga dikonsumsi.

Bagaimana Penularan Cacar Monyet?

Cacar Monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus yang ditularkan ke manusia dari hewan seperti tikus dan monyet. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ini terjadi ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan darah, cairan tubuh atau lesi hewan yang terinfeksi.

Virus ini juga dapat ditularkan dengan memakan daging hewan yang terinfeksi yang tidak cukup matang. Namun, virus tidak mudah menyebar di antara manusia. Infeksi dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan yang terinfeksi, lesi kulit orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi oleh cairan pasien atau bahan lesi. WHO mencatat bahwa saat ini tidak ada bukti bahwa penularan dari orang ke orang dapat mempertahankan infeksi pada populasi manusia sendiri. Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan risiko infeksi monkeypox di Singapura tetap rendah.

Gejala Tertular Cacar Monyet

Orang yang terinfeksi dapat mengalami gejala awal berikut: Demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit punggung, sakit otot dan kekurangan energi. Ruam muncul dalam satu hingga tiga hari setelah timbulnya demam. Ini biasanya dimulai di wajah dan akhirnya menyebar ke bagian tubuh yang lain, umumnya di tangan dan telapak kaki.

Pada kasus yang parah, virus juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, sepsis, radang otak dan kehilangan penglihatan karena infeksi mata. Gejala biasanya berlangsung 14 hingga 21 hari. Sebagian besar kematian terjadi pada kelompok usia yang lebih muda, kata WHO. Tingkat kematian 1 hingga 10 persen telah dilaporkan selama wabah.

Cara Mendiagnosis dan Mengobati Cacar Monyet

Menurut WHO, Cacar Monyet atau Monkeypox hanya dapat didiagnosis di laboratorium khusus dengan sejumlah tes yang berbeda. Sayangnya, saat ini tidak ada perawatan atau vaksin khusus yang tersedia untuk infeksi monkeypox. Namun, vaksin cacar terbukti 85 persen efektif dalam mencegah monkeypox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…