Indonesia merupakan negara sejuta budaya. Bagaimana tidak, sebagai negara kepulauan yang mencakup lebih dari 17000 pulau yang dihuni oleh sekitar 255 juta jiwa masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Banyaknya daerah dan penduduk mengimplikasikan bahwa besarnya keanekaragaman budaya, etnis, agama maupun linguistik yang dapat ditemukan di dalam negara ini. Budaya tersebut sangat bervariasi, dari ritual Hindu yang dipraktekkan sehari-hari di pulau Bali, sampai pemberlakuan (parsial) hukum syariah di Aceh dan gaya hidup pemburu-pengumpul orang Mentawai.

Pulau Jawa menempati peringkat pertama sebagai daerah yang paling padat penduduknya di Indonesia. Bukan hanya penduduk asli melainkan juga para pendatang dari luar daerah mendiami pulau ini. Hal ini berimbas pada beragamnya budaya dan karakter para penduduknya. Namun, budaya asli pulau jawa tetaplah mendominasi dari salah satu ciri khas bangsa Indonesia.

Seni Wayang Milik Seluruh Rakyat Indonesia

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia karena banyak pula negara lain yang memiliki pertunjukan boneka. Namun pertunjukan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2003.

Tak banyak yang tahu kalau ada drama wayang dengan naskah bahasa Indonesia yang diucapkan para pemain. Biasanya pertunjukan seperti itu menggunakan bahasa Jawa. Dilansir dari detik.com, bagi Paguyuban Swargaloka yang didirikan pasangan Suryandoro dan Dewi Sulastri itu wayang tetap harus kekinian dan masuk ke dalam perkembangan zaman. Tahun ini Swargaloka mementaskan drama wayang ‘Sang Penjaga Hati’ yang diambil dari cerita Mahabarata. Bukan seperti drama wayang tradisional yang menggunakan bahasa Jawa, namun justru lebih kekinian dan kontemporer sekali.

“Termasuk pakai bahasa Indonesia. Wayang orang memang sudah punya tradisinya. Penonton akan tahu bagaimana sosok Arjuna, Kurawa, dan karakter lainnya yang secara penampilan saja sudah ngeh,” ujar sutradara sekaligus penulis naskah, Irwan Riyadi saat diwawancarai usai pementasan di Gedung Kesenian Jakarta pada Senin (17/6/2019).

Pihak Swargaloka pun tak ingin hanya menerjemahkan naskah Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Termasuk mengikuti unsur-unsur tradisi yang sudah menjadi pakem.

“Termasuk vocabulary dalam gerak tari. Kami ingin drama wayang ini bukan hanya milik orang Jawa atau Bali, tapi kami memasukkan unsur dari Kalimantan juga, Bali juga ada,” lanjutnya.

Swargaloka melalui naskah-naskah yang ditulisnya ikut memperkaya wawasan tentang tokoh dan lakon pewayangan. Bersama dengan hadirnya kostum dan gending kreasi baru, sajian Swargaloka memberikan warna baru dalam teater pewayangan Tanah Air. Mereka ingin menunjukkan bahwa drama wayang bukanlah hal yang kuno. Wayang adalah milik seluruh masyarakat Indonesia.

Sudah saatnya kaum milenial menyukai wayang sebagai salah satu budaya. Melalui pertunjukan drama wayang dengan konsep modern ini dapat salah satu bentuk pengenalan wayang bagi anak-anak muda atau orang tua yang berjiwa muda. Sehingga warisan budaya dari nenek moyang tidak akan pernah hilang meski berganti zaman.

Wayang Jadi Idola Kala Digemari Pemimpin Negara

Pasang surut kejayaan wayang, sangat tergantung pada siapa yang sedang berkuasa. Meski peran pemerintah dalam memajukan seni dan budaya di Indonesia sangat besar, faktanya dukungan tersebut masih dirasa minim oleh sejumlah kalangan.

Dilansir oleh detik.com, pengamat pewayangan dari Pusat Data Wayang Indonesia Sumari Adi Wiguno mengatakan ada perbedaan yang cukup kentara antara perlakuan pemerintah jaman orde baru dengan era reformasi, terutama dalam mengembangkan seni wayang.

“Political will-nya beda. Kalau dulu kan pemimpinnya memang sangat suka wayang, jadi setiap ada acara-acara tertentu dan acara di kementerian pasti nanggep wayang. Jadi pada saat itu gema wayang lebih terdengar,” kata Sumari kepada detikHOT di Gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah, Senin (26\/8\/2013).

Meski demikian, dia tidak menampik bahwa pemerintah saat ini juga punya andil untuk mengembangkan kesenian wayang, yakni lewat bidang pendidikan. Sudah banyak sekolah-sekolah dalang yang kini bermunculan dan menarik minat generasi muda. Pemerintah, lanjutnya, sudah mulai serius menggarap lembaga pendidikan formal di bidang kesenian dan kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau enggak salah mulai tahun ini pemerintah berencana membuat ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia) di berbagai daerah kayak di Bali dan Jogja,” ujar Sumari.

Tentu tidak sebatas itu saja. Pria yang juga lulusan sekolah pedalangan ini mengkritisi program lanjutan yang dilakukan pemerintah setelah membangun banyak sekolah seni tersebut.

“Setelah belajar wayang dan dalang, lalu mereka mau kemana? Pemerintah harus bisa memfasilitasi ini,” katanya.

Disamping itu, kebijakan politik juga berperan penting, seperti bagaimana pemerintah menempatkan wayang di tempat yang seharusnya. Bentuk konkretnya bisa bermacam-macam. Dari hal terkecil seperti meletakkan wayang di setiap pintu masuk gedung perkantoran, mengadakan seni pertunjukan wayang pada momen-momen besar, hingga mengirim delegasi seni budaya ke pentas internasional.

Satu lagi yang sering luput dari perhatian, yakni lembaga-lembaga non formal di bidang kebudayaan semacam sanggar tari dan sanggar kesenian. Sanggar-sanggar tersebut perlu diberikan fasilitas karena memiliki dalang muda yang berpotensi besar. Hal senada diungkapkan seniman sekaligus pengelola sanggar Swargaloka Irwan Riyadi. Ada ribuan sanggar di seluruh Indonesia yang memiliki bibit-bibit potensial, yang sayang sekali jika tidak mendapat perhatian.

“Kalau turun ke daerah-daerah pasti menemukan seniman-seniman muda yang berbakat dan bagus-bagus. Dukungan pemerintah ini mesti lebih ditingkatkan ke arah sana,” katanya.

Tradisi tidak akan pernah berhenti dan terus berjalan. Kalau berhenti menjadi monumen bagi generasi penerusanya. Kita wajib mengisi dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bukan berarti klasik tidak baik tapi tetap disesuaikan bagi penonton muda dan orang tua yang berjiwa muda.

Budaya Indonesia sangat berbeda dari budaya Barat karena ada perbedaan dalam pengalaman, sistem keyakinan, hierarki, agama, pengertian tentang waktu, hubungan spasial, dan banyak lagi. Apalagi Indonesia dihuni oleh banyak budaya yang berbeda. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara yang kompleks, dan karena itu negara ini sangat menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…