Jakarta, RakyatRukun.com – Pandemi Covid-19 telah mengubah sejarah tidak hanya Indonesia tetapi juga dunia. Banyak ahli tengah membahas masa depan baru. Kehidupan diduga bakal berubah. Sebab, sangat mungkin kita semua bakal meninggalkan rutinitas yang selama ini kita jalani. Manusia di bumi ini diperkirakan akan menjalani perilaku baru yang awalnya terasa asing dan kemudian menjadi kebiasaan baru.

Dahnil Anzar menyebutkan dalam opininya di Jawapos.com, sebanyak 202 bus hingga travel gelap kendaraan pemudik yang ditahan Polda Metro Jaya menunjukkan masifnya pelanggaran PSBB dan larangan mudik. Aparat juga menangkap pembuat surat keterangan bebas Covid-19 yang sebelumnya dijual secara online.

Kita tak bakal kembali pada situasi kehidupan sebelum pandemi. Kehidupan baru telah datang. Bertemu kawan, kemudian bersalaman dan berpelukan, kini seakan tak bisa kita lihat lagi. Di mana-mana kini muncul sarana cuci tangan. Orang bepergian selalu menggunakan masker. Interaksi antar orang menjadi berjarak.

Sejumlah perubahan perilaku sosial baru terus berlangsung. Perubahan itu tentu membawa konsekuensi baru dalam kehidupan masyarakat. Konsekuensi baru yang tidak mudah. Larangan mudik adalah contoh nyata. Orang harus menahan rindu untuk bertemu. Orang harus saling menjaga jarak agar badannya tidak terkoyak. Semua hal baru tersebut harus dilakukan dan entah sampai kapan.

Perubahan Sosial

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan perubahan sosial. Perubahan sosial yang terjadi saat ini termasuk kategori perubahan sosial yang tidak direncanakan. Karena tidak direncanakan, pastilah masyarakat tidak siap menghadapinya. Bahkan, pada titik tertentu, sering membawa masalah yang memicu kekacauan dalam masyarakat.

Perubahan sosial yang cepat akibat wabah ini dapat mengakibatkan terjadinya disorganisasi sosial. Masyarakat dihadapkan pada situasi perubahan yang mengganggu hidupnya. Sejumlah tradisi menjadi lenyap dan berganti cara baru. Kebiasaan silaturahmi, berkumpul, bersalaman, dan sentuhan fisik lainnya dengan orang lain saat ini tak bisa dilakukan karena protokol kesehatan.

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini usai. Selama situasi belum seimbang, orang akan terus mengalami kegelisahan. Bahkan, jika berkepanjangan dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan tata cara hidup baru, orang akan mengalami frustrasi.

Munculnya perubahan sosial baru dan permasalahannya perlu segera diantisipasi. Itu bukan urusan pemerintah saja, tetapi seluruh elemen masyarakat. Pada konteks itulah, diperlukan sistem komunikasi harmoni antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah tak bisa dengan segala kuasanya memaksa dengan instruksinya. Masyarakat juga tak boleh ngeyel alias kukuh dengan cara pandangnya.

Perubahan sosial akibat pandemi apa pun bentuknya telah mengubah keadaan. Sejumlah persoalan baru bakal muncul dan memerlukan penyelesaian. Meski awal persoalan berasal dari aspek kesehatan, penyelesaiannya harus komprehensif yang melibatkan pemikiran dari aspek sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Perspektif ”New Normal”

Perubahan sosial akibat pandemi pada akhirnya memunculkan perspektif ”new normal”. Awalnya, istilah new normal hanya menjadi bahasan dalam dunia bisnis dan ekonomi.

Seorang investor teknologi, Roger McNamee, pertama yang menyebut istilah itu. Dalam sebuah ulasannya terhadap kondisi keuangan setelah krisis keuangan 2007–2008 dan setelah resesi global 2008–2012, McNamee mengkritisi para pebisnis yang terpesona oleh masa lalu dan dinilainya takut menghadapi masa depan (jika ada resesi lagi). Maka kemudian dia mengajak pebisnis segera melupakan perubahan dan memasuki cara baru.

Sejak saat itu, istilah “new normal” digunakan dalam sejumlah konteks lain untuk menyiratkan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak normal bisa berubah menjadi sesuatu yang biasa. Kini, saat pandemi Covid-19, istilah tersebut mencuat kembali. Selama dan pasca pandemi Covid-19, para ahli menyatakan, akan tercipta situasi new normal atau perilaku manusia yang baru, yang berbeda dan berubah dari perilaku sebelumnya (old normal).

Jika pandemi Covid-19 nanti usai, kondisi kehidupan manusia sangat mungkin tidak akan kembali seperti masa prapandemi. New normal atau normal baru adalah suatu waktu di mana sangat mungkin kita hidup dalam aturan kehidupan baru untuk jangka panjang. Perilaku baru yang merujuk protokol kesehatan kini menjadi tradisi keseharian.

Dalam menjalankan aktivitas sosial dan bisnisnya, kini orang semakin lebih mengandalkan sarana media sosial. Untuk memenuhi kebutuhan keseharian, kini orang mulai jarang melakukan komunikasi tatap muka (face-to-face). Orang kemudian menjadi bergantung pada tata cara komunikasi baru. Komunikasi online atau daring kini menjadi superpenting.

Tata cara kehidupan baru harus menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam melakukan perubahan kebijakannya. Perhatian pada kebutuhan kesehatan masyarakat, infrastruktur komunikasi, serta transparansi layanan publik perlu disesuaikan dengan cepat. Demikian juga halnya dalam soal regulasi atau perundang-undangan. Diperlukan pembaharuan secara cepat karena sangat dibutuhkan untuk menata sistem kehidupan new normal nanti.

Menurut Suko Widodo, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga, masyarakat perlu dipahamkan dan diajak beradaptasi dengan perubahan menuju new normal ini. Dalam perspektif new normal, yang dahulu dianggap normal mungkin ke depan tidak menjadi kebiasaan lagi. Masyarakat harus diedukasi terus untuk menjalankan kehidupan dengan cara baru. Mereka harus dibiasakan menerapkan protokol kesehatan.

Perubahan itu memang mengharuskan kita bisa menyesuaikan diri. Sebab, jika tidak mampu, kita bakal frustrasi. Bisa-bisa, jika tidak move on, orang akan mengalami sindrom masa silam. Kita semua mesti siap menghadapinya. Jika tidak, kita hanya akan menjadi sejarah masa silam.

Namun, tanpa konsistensi semua pihak serta tidak ada peningkatan kedisiplinan dan ketegasan masyarakat, pemerintah dan aparat, new normal bisa berubah menjadi herd immunity. Yang kuat akan bertahan, yang lemah pasti akan musnah (mati) dan ini tentu akan menjadi noda kotor sejarah bangsa kita. Dahnil Anzar dalam Jawapos.com menyebut Covid-19 adalah “Pagebluk” atau wabah penyakit.

Pagebluk Covid-19 tidak boleh membuat kita gebluk sebagai bangsa.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Hidup New Normal di Tempat Kerja

Jakarta, RakyatRukun.com – Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan panduan kenormal…